Repelita [Jakarta] - Program strategis nasional Makan Bergizi Gratis atau MBG kini menjadi sorotan tajam.
Kritik keras datang dari Aliansi Ibu Indonesia yang menilai inisiatif tersebut tidak berpijak pada logika ilmiah yang benar.
ADVERTISEMENT
Perwakilan organisasi tersebut, Annette Mau, bahkan melabeli kebijakan ini sebagai proyek yang mencederai martabat kaum perempuan.
Pernyataan tersebut diungkapkan Annette saat mengikuti rapat dengar pendapat bersama Komisi IX DPR RI, Kamis (16/7/2026).
Ia menyoroti formulasi kebijakan yang terkesan mengabaikan kontribusi serta perspektif para ibu dalam urusan pemenuhan gizi anak.
"Ini adalah proyek yang paling menghinakan ilmu pengetahuan dan perempuan," kata Annette, Sabtu (18/7/2026).
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa perempuan memiliki kepekaan dan kemampuan manajemen sumber daya pangan yang sangat teruji.
"Bahwa urusan makan, urusan gizi, perempuan dan ibu jangan dilawan Bapak dan Ibu. 10.000 di tangan kami itu jadinya bernilai Rp100.000. Bapak-bapak di sebelah sini sudah ngangguk-ngangguk. Saya yakin istri-istri mereka luar biasa hebat di rumah. Jadi jangan tanya di tangan kami 15.000 bisa jadi berapa?" urainya.
Annette juga menyoroti insiden keracunan makanan yang sempat terjadi sebagai bukti kegagalan negara dalam perlindungan anak.
Ia menyesalkan minimnya tanggung jawab serta kompensasi yang diberikan pemerintah kepada keluarga yang terdampak insiden tersebut.
"Betapa hinanya anak-anak kita di mata negara diberikan makan sampai keracunan. Dan apa tindakan negara? Adakah kompensasi? Adakah permintaan maaf? Adakah ganti rugi secara sosial? Bapak, Ibu yang tidak punya BPJS ke rumah sakit merawat anaknya berhari-hari tanpa kompensasi dan kita berkata kita sedang membela orang miskin. How dare you?" ujarnya.
Pihaknya juga menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai tidak akomodatif terhadap kritik konstruktif dari kalangan pakar.
Annette secara khusus menyoroti kepemimpinan di Badan Gizi Nasional yang dinilainya tidak merepresentasikan kepedulian seorang ibu.
"Dan maaf kalau saya boleh ngomong terus terang. Saya tidak merasa bangga Ibu Nani S Deyang yang menggantikan menjadi kepala BGN sekarang. Maaf, dia tidak ada di pihak kami walau dia berjenis kelamin perempuan. Karena kalau dia perempuan yang sungguh-sungguh ibu, dia akan paham this is not the way you feed the children," tegasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok