Berita, Nasional

Alasan Gatot Nurmantyo Peringatkan Ancaman Triple Crisis Ekonomi yang Mengintai Indonesia

Repelita.id

08 June 2026 20:00 WIB

Alasan Gatot Nurmantyo Peringatkan Ancaman Triple Crisis Ekonomi yang Mengintai Indonesia
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Mantan Panglima TNI, Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo, menyampaikan peringatan serius terkait ancaman ekonomi yang mengintai Indonesia, yang ia sebut sebagai triple crisis.

Peringatan tersebut didasarkan pada akumulasi persoalan struktural yang berkembang dalam satu dekade terakhir.

ADVERTISEMENT

Gatot menekankan bahwa krisis ini dipicu oleh tiga faktor utama yang saling berkaitan erat.

"Sebenarnya kalau kita bedah, saat ini sedang terjadi triple crisis dalam struktur ekonomi Indonesia. Akar masalah utamanya adalah deindustrialisasi dini yang terjadi secara perlahan namun konsisten selama 10 tahun terakhir," ujar Gatot.

Faktor pertama, deindustrialisasi dini, dinilai Gatot sebagai akar masalah yang menyebabkan menyusutnya sektor industri nasional.

Penurunan kapasitas industri ini berdampak pada berkurangnya lapangan pekerjaan formal, memicu PHK, dan melemahkan efisiensi produksi domestik.

Faktor kedua adalah tekanan pada fiskal negara.

Gatot menjelaskan bahwa menyusutnya sektor formal secara otomatis mengurangi basis penerimaan pajak.

"Jika sektor formal mengecil, maka penerimaan pajak negara otomatis mengecil. Dengan mengecilnya penerimaan, APBN tidak memiliki ruang yang cukup untuk dialokasikan ke sektor-sektor penting," ungkap Gatot.

Faktor ketiga adalah kerentanan nilai tukar rupiah yang dipicu oleh lemahnya industri nasional.

Menurut Gatot, kemampuan negara dalam menghasilkan devisa melalui ekspor terhambat karena produksi dalam negeri yang rendah.

"Kerapuhan rupiah terjadi karena industri dan produksi dalam negeri lemah, sehingga devisa yang masuk dari ekspor juga lemah," jelasnya.

Gatot menambahkan, kombinasi dari deindustrialisasi, beban utang, dan penurunan daya beli masyarakat menciptakan indikator yang perlu diwaspadai.

Ia mengingatkan bahwa ketidakhati-hatian dalam merespons kondisi ini berisiko membawa Indonesia pada situasi ekonomi yang menyerupai krisis 1998. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung