Repelita Jakarta - Aktivis Andrie Yunus akhirnya berbicara untuk pertama kalinya sejak insiden penyiraman air keras yang dialaminya oleh pihak tidak dikenal, melalui sebuah pernyataan yang diunggah di akun Instagram @kontras_update pada Kamis, 2 April 2026.
Dalam rekaman pernyataan yang dibuat pada Rabu, 1 April 2026, Andrie mengucapkan terima kasih atas seluruh dukungan yang telah diterimanya dari berbagai pihak dan menegaskan akan tetap kuat menghadapi situasi yang menimpanya.
ADVERTISEMENT
“Halo kawan-kawan, terima kasih atas segala bentuk dukungan yang telah diberikan kepada saya untuk menghadapi teror dari orang-orang yang pengecut. Saya akan tetap kuat, akan tetap tegar, tentu dengan segala dukungan penuh dari kawan-kawan sekalian,” ujar Andrie Yunus dalam pernyataannya.
Ia pun menggaungkan semangat perjuangan kepada para pendukungnya dengan menyatakan “A luta continua! Panjang umur perjuangan!” sebagai bentuk optimisme di tengah masa pemulihan.
Dalam unggahan yang sama dijelaskan bahwa saat ini Andrie Yunus masih menjalani perawatan intensif di ruang high care unit (HCU) dimana pihak keluarga, kuasa hukum, hingga rumah sakit membatasi kunjungan untuk menjaga kondisi pasien.
Sebelumnya, Wakil Koordinator KontraS tersebut diserang oleh orang tak dikenal usai dirinya melakukan podcast di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang mengangkat tema remiliterisme dan judicial review di Indonesia.
Penyerangan terjadi sekitar pukul 23.00 WIB pada Kamis, 12 Maret, dan setelah kejadian ia langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis atas luka bakar sebanyak 24 persen.
Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, menyoroti adanya perbedaan keterangan antara Kepolisian dan TNI terkait jumlah serta keterlibatan pelaku dalam kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus.
Dimas mengungkapkan bahwa tim advokasi untuk demokrasi yang melakukan penelusuran independen menemukan jumlah pihak yang terlibat diduga lebih banyak dibandingkan yang disampaikan aparat penegak hukum.
“Ada dua versi yang berbeda dari Kepolisian dan TNI mengenai terduga pelaku. Akan tetapi, temuan dari tim advokasi untuk demokrasi menunjukkan operasi ini melibatkan 16 orang atau lebih,” katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa, 31 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa temuan tersebut diperoleh dari rangkaian rekonstruksi peristiwa berdasarkan penelusuran rekaman kamera pengawas (CCTV) serta pengumpulan alat bukti menggunakan perangkat open source intelligence (OSINT).
Dari hasil analisis tersebut, tim advokasi mengidentifikasi setidaknya 16 orang yang diduga terlibat dalam rangkaian aksi penyiraman air keras, belum termasuk pihak yang diduga berperan sebagai aktor intelektual.
“Artinya, selain jumlah pelaku yang mungkin lebih banyak, kami melihat ini sebagai satu rangkaian tindakan yang sistematis. Dalam terminologi kami, ini merupakan operasi intelijen,” jelasnya.
Operasi tersebut disebut memiliki nama sandi Operasi Sadang yang diawali dengan tahap perencanaan, pengawasan, hingga penguntitan terhadap Andrie Yunus.
“Operasi Sadang ini bermula dari sejumlah tindakan perencanaan, surveillance, penguntitan, dan pemantauan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang kami identifikasi sebagai orang tak dikenal (OTK) terhadap Andrie Yunus,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa berdasarkan informasi yang diterima tim advokasi, Andrie Yunus bukan satu-satunya pihak yang menjadi target pemantauan karena diduga terdapat beberapa target lain dalam rangkaian operasi tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok