Repelita Jakarta - Mantan politisi Partai Solidaritas Indonesia, Ade Armando, kini mulai melancarkan serangan terbuka yang menyasar kebijakan internal partai serta figur Ketua Harian Ahmad Ali, dengan kata-kata yang dinilai sangat menusuk.
Kritik tajam tersebut dilemparkannya menyusul sikap elite partai berlambang mawar itu yang dinilai lepas tangan dalam memberikan perlindungan hukum bagi rekan sejawatnya, Grace Natalie, yang tengah berhadapan dengan proses pidana.
ADVERTISEMENT
Melalui ulasan di sebuah tayangan digital, Ade Armando meluapkan kekecewaan mendalam atas keputusan sepihak pengurus pusat yang tegas membiarkan salah satu tokoh pendiri partai berjuang sendirian di meja hijau.
"Ketua Harian PSI mengatakan tidak ada bantuan hukum untuk Grace karena pernyataan terkait video JK itu urusan pribadi. Padahal Grace itu Dewan Pembina. Tiba-tiba dikatakan tidak akan dibantu. Itu tamparan kedua. Tarulah saya tamparan pertama, dan Grace tamparan kedua," ujar Ade dikutip pada Jumat, 15 Mei 2026.
Pakar komunikasi dari Universitas Indonesia itu menegaskan bahwa andaikata status keanggotaannya belum resmi tanggal, maka dirinya dipastikan akan memicu kegaduhan besar di internal demi membela hak sang rekan.
"Kalau saya masih di PSI, saya akan ribut soal itu. Karena enggak bisa diterima sikap semacam itu," katanya dengan nada emosional.
Ade tidak menutupi realitas pahit bahwa rangkaian friksi politik di dalam tubuh organisasi tersebut telah meruntuhkan integritas serta rasa hormatnya terhadap komitmen kepemimpinan yang ada saat ini.
"Menurun kepercayaan saya kepada PSI. Ini saya ngomong begini bukan karena saya keluar dari PSI," ucapnya tegas.
Dalam narasi lanjutannya, Ade turut membeberkan dinamika terselubung berupa desakan dari sekelompok pengurus internal yang menghendaki pemecatan dirinya sejak beberapa waktu lalu sebelum akhirnya ia memutuskan mundur.
Upaya penyingkiran tersebut didasari oleh kecemasan faksi tertentu yang menganggap gaya bicaranya yang vokal dan kritis dapat merusak agenda penyegaran citra partai dalam merebut simpati kelompok religius di Tanah Air.
Kendati mengetahui adanya pergerakan bawah tanah tersebut, namun dirinya mengonfirmasi tidak pernah ada proses konfrontasi ataupun pemanggilan resmi dari jajaran petinggi eksekutif partai.
Benturan ideologi di lingkaran dalam tersebut pada akhirnya bermuara pada keputusan final dirinya untuk menanggalkan seragam partai per hari Selasa, tanggal 5 Mei 2026.
Langkah mundur ini sengaja diambil sebagai solusi paling bijak agar gelombang kecaman serta tensi politik negatif yang menderanya tidak ikut membebani mesin pemenangan partai di kemudian hari.
Persoalan ini sendiri memanas setelah Sekretaris Dewan Pembina Grace Natalie tersandung masalah pelaporan pidana akibat unggahan ulasan terhadap potongan rekaman khotbah keagamaan milik Jusuf Kalla.
Aksi penolakan dari aliansi gabungan puluhan organisasi kemasyarakatan berbasis Islam akhirnya berujung pada pendaftaran berkas laporan resmi di markas besar Kepolisian Republik Indonesia.
Ironisnya, Ahmad Ali selaku pemegang komando harian partai justru menegaskan bahwa institusinya tidak akan menyodorkan pembelaan yudisial karena menganggap masalah tersebut merupakan tanggung jawab personal Grace semata.
Tuntutan hukum di meja penyidik tersebut digulirkan oleh perwakilan umat yang secara serentak menjerat nama Grace Natalie berbarengan dengan Ade Armando serta pegiat media sosial Permadi Arya.
“Kami mewakili sekitar 40 ormas Islam yang kita sebut dengan Aliansi Ormas Islam untuk Kerukunan Umat Beragama datang untuk membuat laporan kepolisian yang akan melaporkan tiga orang, yaitu saudara Ade Armando, Permadi Arya, dan Grace Natalie,” kata Direktur LBH Hidayatullah, Syaefullah Hamid, di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, pada Senin, 4 Mei 2026.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok