Repelita Teheran - Dalam eskalasi dramatis konflik Timur Tengah, Iran melancarkan serangan spektakuler yang berlangsung selama 12 jam non-stop, menghantam jantung infrastruktur Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di empat negara sekaligus.
Tidak ada satu pun upaya pencegatan yang berhasil dilakukan oleh pihak musuh.
ADVERTISEMENT
Pertahanan udara Israel yang selama ini dianggap salah satu yang terkuat di dunia seolah tak berkutik menghadapi gelombang serangan yang datang bertubi-tubi.
Yang lebih mengkhawatirkan serangan ini bukan sekadar serangan balasan biasa melainkan operasi terkoordinasi yang menyasar titik-titik paling vital musuh.
Salah satu target utama adalah pabrik farmasi TEVA yang berlokasi di kawasan industri Neot Hovav Israel selatan.
TEVA dikenal sebagai produsen obat generik terbesar di dunia yang memasok kebutuhan medis bagi jutaan pasien di Amerika Serikat, Eropa, dan berbagai negara lainnya.
Laporan awal menyebutkan bahwa kebocoran bahan kimia terjadi setelah pabrik tersebut terkena serangan memicu ledakan susulan dan kobaran api besar yang melalap sebagian fasilitas.
Kebakaran hebat terlihat menyemburkan asap hitam tebal yang membubung tinggi dan terlihat dari jarak bermil-mil.
Namun pihak TEVA memberikan pernyataan yang sedikit berbeda dengan menegaskan bahwa tidak ada rudal yang menghantam fasilitas mereka.
Dalam rilis resmi perusahaan menyebutkan semua staf dilaporkan selamat dengan operasi tetap berjalan normal.
Sumber di lapangan melaporkan adanya proyektil yang jatuh di kawasan industri tersebut memicu kepanikan dan evakuasi massal.
Kawasan Neot Hovav sendiri merupakan rumah bagi beberapa fasilitas kimia besar yang sangat sensitif.
Seorang pejabat pertahanan Israel yang enggan disebutkan namanya mengakui bahwa dampak tidak langsung dari serangan ini sangat signifikan termasuk potensi kebocoran bahan berbahaya.
Analis militer menilai meskipun pabrik mungkin tidak terkena langsung, tekanan psikologis dan ekonomi dari serangan ini sama merusaknya dengan serangan fisik.
Saham TEVA dilaporkan sempat mengalami tekanan jual di bursa saham global sebelum pulih kembali.
Yang paling mengejutkan adalah laporan bahwa Iran melakukan 27 serangan di wilayah Negev dalam waktu yang sangat singkat.
Namun tidak ada satu pun sistem pertahanan udara Israel yang teraktivasi karena tidak ada pencegatan dan tidak ada sirine berbunyi.
Negev bukanlah wilayah sembarangan karena di sinilah lokasi Pusat Penelitian Nuklir Shimon Peres di Dimona berada.
Fasilitas tersebut secara luas diyakini sebagai inti dari program senjata nuklir Israel yang selama ini dirahasiakan.
Badan Energi Atom Internasional segera merespons dengan pernyataan darurat terkait insiden di kota Dimona.
IAEA mengetahui laporan tentang insiden yang melibatkan dampak rudal dan belum menerima indikasi kerusakan pada pusat penelitian nuklir Negev.
Informasi dari negara-negara regional menunjukkan bahwa tidak ada tingkat radiasi abnormal yang terdeteksi di sekitar lokasi.
Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi menyerukan pengendalian militer maksimal terutama di sekitar fasilitas nuklir.
Serangan ke Dimona ini terjadi hanya beberapa jam setelah AS dan Israel dilaporkan menyerang fasilitas nuklir Natanz di Iran.
Urutan waktu ini menunjukkan pola eskalasi yang saling membalas dalam dinamika mata ganti mata yang semakin berbahaya.
Iran juga berhasil melumpuhkan pembangkit listrik Israel di Negev sehingga pemadaman listrik dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah selatan Israel.
Sementara itu kilang minyak Pelabuhan Haifa juga dilaporkan terdampak serangan yang mengganggu pasokan energi.
Sebagai pusat pengolahan minyak terbesar di Israel, kerusakan pada fasilitas ini langsung memicu kekhawatiran akan pasokan bahan bakar di dalam negeri.
Kombinasi dari serangan-serangan ini langsung menghantam pasar keuangan Israel hingga anjlok 4 persen dalam hitungan jam.
Investor panik melepas saham-saham di sektor energi, manufaktur, dan properti secara besar-besaran.
Aspek paling berbahaya dari serangan 12 jam ini adalah koordinasinya yang melibatkan berbagai front secara bersamaan.
Bukan hanya Israel yang menjadi sasaran tetapi juga pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Serangan terjadi secara serentak dalam sebuah operasi yang membutuhkan perencanaan dan koordinasi tingkat tinggi.
Ini mengirimkan pesan yang jelas bahwa Iran mampu dan mau menyerang kepentingan AS di mana pun berada di kawasan Teluk.
Sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, Iran telah meluncurkan ratusan rudal dan drone yang menargetkan sedikitnya 27 pangkalan pasukan AS di Timur Tengah.
Uni Emirat Arab khususnya telah menanggung beban berat karena menjadi lokasi pangkalan militer AS yang strategis.
The Guardian melaporkan bahwa pertahanan udara UEA telah melibatkan sekitar 294 rudal balistik dan 15 rudal jelajah yang diluncurkan dari Iran.
Lebih dari 1.600 drone juga telah ditembak jatuh oleh sistem pertahanan UEA sejak konflik dimulai.
Meskipun tingkat intersepsi mencapai 90 persen, beberapa rudal berhasil menembus pertahanan dan merusak bangunan termasuk hotel mewah Fairmont The Palm dan Burj Al Arab di Dubai.
Setidaknya enam orang tewas dan 141 lainnya terluka dalam serangkaian serangan di wilayah UEA.
Kuwait juga melaporkan telah mencegat 17 rudal dan 22 drone dalam satu serangan dengan total 120 rudal balistik dan 308 drone terdeteksi sejak konflik dimulai.
Bahrain mengklaim telah berhasil menghancurkan sekitar 125 rudal dan 211 drone yang diluncurkan ke wilayahnya.
Sementara itu di front utara, perang Israel-Hizbullah yang telah berlangsung selama tiga minggu terakhir terbukti sangat mahal bagi Israel.
Dalam tiga minggu pertempuran, Israel dilaporkan kehilangan ratusan tentara, 134 tank Merkava, 10 drone, dan lebih dari 4.000 bom.
Hizbullah yang didukung penuh oleh Iran telah menunjukkan kemampuannya sebagai kekuatan militer non-negara yang paling kuat di dunia.
Kelompok ini telah menggunakan medan pegunungan Lebanon selatan untuk keuntungan taktis melawan pasukan Israel.
Al Jazeera melaporkan bahwa pada tanggal 2 April 2026, serangan roket Hizbullah ke wilayah Kiryat Ata di Israel menghantam infrastruktur militer dengan lebih dari 30 roket diluncurkan hanya dalam beberapa menit.
Total kerugian yang diderita Israel dari front selatan dan front utara diperkirakan mencapai USD 1,2 miliar mencakup bom, radar, dan tank yang hancur atau rusak berat.
Pertanyaan yang menghantui para analis militer adalah bagaimana bisa 27 rudal lolos tanpa satupun intersepsi.
Laporan dari Anadolu Ajansı memberikan petunjuk bahwa Israel terpaksa menggunakan sistem pertahanan udara yang tidak dirancang untuk mencegat jenis rudal tertentu.
Tentara Israel mengandalkan sistem intersepsi AS serta sistem tingkat rendah seperti David's Sling untuk mencegat rudal tertentu meskipun tidak dirancang untuk ancaman semacam itu.
Lebih parah lagi pemerintah Israel dilaporkan gagal mendanai jalur produksi tambahan untuk rudal pencegat karena perselisihan keuangan antara kementerian pertahanan dan keuangan.
Ada juga indikasi bahwa Iran menggunakan taktik saturasi dengan meluncurkan rudal dalam jumlah besar secara bersamaan untuk membanjiri sistem pertahanan.
Konflik yang telah memasuki hari ke-34 ini tidak hanya berdampak pada medan perang tetapi juga pada ekonomi global.
PBB memperingatkan kenaikan 20 persen harga pangan global dapat mendorong 5 juta orang tambahan ke dalam kerawanan pangan di negara-negara Arab berpendapatan menengah dan rendah.
Sementara itu China kembali menyerukan semua pihak yang terlibat dalam perang Iran untuk segera menghentikan operasi militer dan memulai proses perundingan perdamaian sesegera mungkin.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok