Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Pakar Sebut Iran Cerdas Fasilitas Server Diserang, AS-Israel Makin Kewalahan Hadapi Iran

 

Repelita Singapura - Perang Timur Tengah yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 memperlihatkan betapa pontang-pantingnya Amerika Serikat dan Israel menghadapi kekuatan Iran.

Terlebih ketika Iran berhasil menghancurkan pusat keamanan data di wilayah Teluk yang menjadi tulang punggung operasi militer dan intelijen Barat.

Pakar teknologi dari Nanyang Technological Institute, Prof. Sulfikar Amir menjelaskan bahwa strategi dan kekuatan Iran sangat tidak bisa diprediksi oleh Amerika Serikat dan Israel.

"Dan Iran sebagai suatu kekuatan politik itu menarik untuk dicermati karena ini adalah salah satu dari sedikit negara non-barat yang berani melawan kekuatan dan supremasi militer Amerika Serikat," kata Sulfikar dikutip dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, Minggu malam, 15 Maret 2026.

"Dan menariknya selama lebih dari satu minggu, sekarang sudah mungkin hampir dua minggu ya peperangan militer dimulai, kita bisa melihat indikasi bagaimana Amerika Serikat dan Israel itu kewalahan sebenarnya menghadapi kekuatan Iran yang tidak mereka prediksi," tambah pakar teknologi tersebut.

Lanjut dia, dalam kurun waktu dua minggu ini Iran telah melancarkan serangannya ke Israel dan sekutu AS di Timur Tengah yang tergabung dalam Gulf Cooperation Council.

Negara-negara Teluk yang menjadi anggota GCC seperti Arab Saudi, UEA, Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Oman turut merasakan dampak serangan Iran.

"Iran ini sangat cerdas karena dia mampu melihat implikasi yang lebih luas dari peran negara-negara GCC ini terhadap kepentingan ekonomi Amerika Serikat," jelas Sulfikar.

"Sehingga mereka melihat bahwa dengan menyerang titik-titik penting dari fasilitas yang kita sebut sebagai critical infrastructure," sambungnya menerangkan strategi perang asimetris Iran.

Masih kata Sulfikar, infrastruktur kritis yang diserang itu merupakan Achilles Heel sistem ekonomi kapitalis global di kawasan Timur Tengah.

"Dan kita tahu yang diserang itu salah satunya adalah fasilitas server yang menopang sistem komputasi global sekaligus menjadi pusat dari operasi artificial intelligence dunia," pungkasnya dalam wawancara tersebut.

Iran sebelumnya melancarkan serangan drone dan rudal yang merusak setidaknya tiga pusat data Amazon Web Services yang tersebar di Uni Emirat Arab dan Bahrain.

Amazon Web Services merupakan penyedia layanan cloud terbesar di dunia yang menopang berbagai operasi digital militer dan sipil Amerika Serikat.

Dampak pada serangan infrastruktur digital ini sangat serius bagi kekuatan pertahanan dan keamanan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Sejumlah laporan menyebutkan terjadi kekacauan internet di wilayah Teluk pasca serangan Iran terhadap pusat-pusat data strategis tersebut.

Gangguan internet ini mempengaruhi berbagai operasi militer, intelijen, dan komunikasi pasukan Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan.

Serangan terhadap infrastruktur digital ini menunjukkan perluasan medan perang ke domain siber yang selama ini menjadi keunggulan Barat.

Iran membuktikan diri sebagai kekuatan yang mampu melumpuhkan tidak hanya target militer konvensional tetapi juga infrastruktur teknologi musuh.

Para pengamat militer menilai strategi Iran ini sangat cerdas karena menyerang titik paling rentan dari kekuatan Amerika Serikat di era digital.

Dengan melumpuhkan pusat data, Iran secara efektif membutakan mata dan telinga militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Kekalahan Amerika Serikat dan Israel dalam perang ini semakin nyata di hadapan publik internasional yang menyaksikan perkembangan konflik.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved