Repelita Washington - Makin kelimpungan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump ngemis bantuan ke negara sekutu untuk amankan Selat Hormuz yang diblokade Iran.
Awalnya sesumbar dapat melindungi kapal-kapal di Selat Hormuz dari blokade Iran, kini Trump justru meminta-minta ke negara lain untuk ikut mengamankan jalur penting pasokan minyak dunia itu.
Bahkan Trump telah mengeluarkan pernyataan baru di Truth Social berdasarkan komentarnya yang sebelumnya tentang banyak negara yang mengirimkan kapal perang untuk menjaga selat Hormuz tetap terbuka.
Patut dicatat bahwa aksi Iran membatasi pergerakan di Selat Hormuz adalah balasan atas serangan ilegal Amerika Serikat dan Israel.
"Negara-negara di dunia yang menerima Minyak melalui Selat Hormuz harus mengurus jalur tersebut, dan kami akan banyak membantu!" tulis Trump dalam unggahannya.
AS juga akan berkoordinasi dengan negara-negara tersebut sehingga semuanya berjalan dengan cepat, lancar, dan baik sesuai rencana.
"Hal ini seharusnya selalu menjadi upaya tim. Ini akan menyatukan Dunia menuju Harmoni, Keamanan, dan Perdamaian Abadi!" lanjutnya.
Begini respons Iran terhadap kelimpungan Trump yang meminta bantuan negara lain.
Sementara itu, koresponden Al Jazirah melaporkan bahwa tampaknya Donald Trump telah memikirkan rencana yang dipostingnya di media sosial selama beberapa jam.
Ia menyebutkan negara-negara seperti Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan China jika ingin mengonsumsi minyak yang melewati Selat Hormuz juga harus mempertahankannya.
Beberapa jam setelah unggahan awal di Truth Social, presiden AS tampaknya menggandakan pernyataannya dengan mengatakan bahwa negara-negara yang menerima minyak harus menjaga jalurnya.
Dia juga menyarankan ini harus menjadi upaya tim yang solid dari semua pihak terkait.
Fakta bahwa ia menyerukan negara-negara lain untuk membantu mempertahankan Selat Hormuz, yang telah ditutup oleh Iran, menunjukkan bahwa hal ini merupakan risiko yang berkelanjutan.
Ini juga merupakan strategi cerdas Iran yang menandakan kelemahan Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Amerika Serikat menghabiskan miliaran dolar dan mengirimkan lebih banyak Marinir selain kehadiran militernya di wilayah tersebut.
Hal ini menyoroti bahaya dan risiko yang dihadapi AS dalam upaya melindungi kapal-kapalnya di Selat Hormuz.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengimbau negara-negara tetangga di Teluk dan negara-negara Timur Tengah lainnya untuk mengusir agresor asing.
Ia mengatakan, Amerika Serikat terbukti tak bisa memberikan perlindungan kepada negara-negara tersebut.
"Payung keamanan AS yang disebut-sebut terbukti penuh lubang dan justru mengundang masalah, bukannya menghalangi masalah," tulis Araghchi.
AS kini memohon kepada negara lain, bahkan China, untuk membantunya membuat Hormuz aman dari ancaman.
Iran menyerukan negara-negara tetangganya untuk mengusir agresor asing, terutama karena satu-satunya kekhawatiran mereka adalah Israel.
Menteri Luar Negeri Iran juga mengatakan pasukan negaranya akan menanggapi setiap serangan terhadap fasilitas energi Iran.
Ia juga mengungkapkan serangan terkini Amerika Serikat diluncurkan dari Uni Emirat Arab.
"Jika fasilitas Iran menjadi sasaran, pasukan kami akan menargetkan perusahaan-perusahaan Amerika di wilayah tersebut, atau perusahaan-perusahaan yang memiliki saham di Amerika Serikat," ujarnya dalam sebuah wawancara dengan MS Now pada Sabtu, 14 Maret 2026.
Ia juga menekankan bahwa Teheran akan bertindak hati-hati untuk memastikan bahwa daerah padat penduduk tidak menjadi sasaran serangan balasan.
Pernyataan Araghchi muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan serangan besar-besaran terhadap sasaran militer di Pulau Kharg Iran.
Trump juga mengancam akan menyerang fasilitas minyaknya jika Teheran terus menghalangi kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Araqchi mengatakan bahwa serangan terhadap Kharg diluncurkan dari wilayah tetangga Iran.
Ia kemudian memerinci bahwa Amerika meluncurkan rudal HIMARS dari negara-negara tetangga.
Serangan Amerika di Pulau Kharg pada Jumat, 13 Maret 2026 diluncurkan dari Ras Al Khaimah dan sebuah tempat dekat Dubai di Uni Emirat Arab.
"Sekarang menjadi jelas bahwa mereka menggunakan wilayah negara tetangga untuk meluncurkan rudal semacam itu terhadap kami, dan ini sama sekali tidak dapat diterima," tegasnya.
Situasi ini menunjukkan kompleksitas konflik di Selat Hormuz yang melibatkan banyak negara di kawasan Teluk.
Trump yang makin kelimpungan kini harus berhadapan dengan respons tegas Iran yang tidak gentar menghadapi tekanan Amerika.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

