Repelita Teheran - Situasi di kawasan Timur Tengah semakin memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran mengerahkan pasukannya untuk menutup Selat Hormuz.
Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari menyatakan hal itu pada Sabtu tanggal dua puluh delapan Februari dua ribu dua puluh enam.
Menurut Jabari penutupan Selat Hormuz dilakukan oleh pasukan IRGC sebagai respons langsung atas agresi yang menimpa Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Jabari kepada stasiun penyiar Al-Mayadeen dalam wawancara terkini.
Sebelumnya pada hari yang sama Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan udara ke berbagai target di wilayah Iran termasuk ibu kota Teheran.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur signifikan serta menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil.
Sebagai tindakan balasan Iran langsung meluncurkan gelombang rudal ke wilayah Israel serta sasaran militer Amerika di kawasan Timur Tengah.
Perwakilan IRGC menilai bahwa Israel telah melakukan kesalahan perhitungan strategis dengan memulai serangan ke wilayah Iran.
Kementerian Pendidikan Iran melalui kantor berita ISNA mengumumkan penutupan sementara sekolah-sekolah di seluruh negeri.
Beberapa institusi pendidikan dialihkan ke sistem pembelajaran daring guna melindungi siswa dari ancaman serangan lanjutan.
Penutupan Selat Hormuz berpotensi menciptakan gangguan pasokan minyak dunia dalam skala yang sangat besar.
Iran sebagai produsen minyak terbesar keempat dunia menghasilkan lebih dari tiga juta barel per hari pada awal tahun ini.
Selat Hormuz menjadi jalur utama bagi ekspor minyak mentah dari Arab Saudi Kuwait serta Uni Emirat Arab yang menyumbang sekitar lima belas persen pasokan global.
Jika penutupan berlangsung lama aliran minyak dari ketiga negara tersebut akan terhenti sepenuhnya.
Produk gas alam cair atau LNG dari Uni Emirat Arab dan Qatar juga bergantung pada Selat Hormuz sebagai jalur transportasi utama.
Sekitar dua puluh persen pasokan LNG dunia melewati selat tersebut sehingga penutupan akan berdampak langsung pada pasar energi internasional.
Gangguan pasokan ini berisiko memicu kenaikan harga minyak dan gas secara drastis di tingkat global.
Dalam skenario terburuk kondisi tersebut dapat mendorong terjadinya resesi ekonomi di berbagai belahan dunia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia mengimpor minyak dan gas bumi senilai tiga puluh enam koma dua tujuh miliar dolar Amerika pada tahun dua ribu dua puluh empat.
Angka impor migas tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai tiga puluh lima koma delapan tiga miliar dolar Amerika.
Impor minyak mentah mencatat nilai sepuluh koma tiga lima miliar dolar Amerika sementara impor produk minyak seperti bahan bakar minyak mencapai dua puluh lima koma sembilan dua miliar dolar Amerika.
Ketergantungan Indonesia pada pasokan migas internasional menjadikan penutupan Selat Hormuz sebagai ancaman nyata terhadap stabilitas energi domestik.
Eskalasi konflik ini terus memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pelaku pasar dan pemerintah di seluruh dunia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

