Repelita Jakarta - Ketegangan yang semakin memuncak di Timur Tengah kini mengancam kestabilan ekonomi dunia terutama melalui lonjakan harga komoditas energi.
Setidaknya tiga kapal tanker menjadi korban serangan di Selat Hormuz yang merupakan jalur perdagangan paling krusial bagi pasokan minyak dan gas global.
Aksi tersebut merupakan balasan tegas dari Iran menyusul serangkaian serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat serta Israel sebelumnya.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris UKMTO melaporkan dua kapal mengalami hantaman langsung sedangkan satu kapal lain terdampak ledakan proyektil di jarak yang sangat dekat.
Iran telah mengeluarkan peringatan tegas agar seluruh kapal menghindari pelintasan Selat Hormuz demi menghindari risiko lebih lanjut.
Akibat gangguan tersebut aktivitas pengiriman internasional di pintu masuk selat nyaris lumpuh total mengingat sekitar seperlima pasokan minyak dunia mengalir melalui jalur tersebut.
Para pengamat memperingatkan bahwa jika konflik berlarut-larut maka gelombang kenaikan harga minyak secara ekstrem sulit dielakkan.
Pada perdagangan Senin pagi di pasar Asia harga minyak mentah Brent langsung melonjak lebih dari tujuh persen mencapai level US$78,25 per barel.
Demikian pula minyak mentah Amerika Serikat WTI naik sekitar tujuh koma tiga persen hingga menyentuh angka US$71,93 per barel.
Pasar saat ini memang belum mencapai tahap kepanikan penuh namun terus memantau apakah arus lalu lintas di Selat Hormuz dapat pulih dalam waktu singkat ujar Saul Kavonic Kepala Riset Energi MST Research.
Meski begitu sejumlah analis lain memperkirakan harga minyak berpotensi menembus batas US$100 per barel apabila situasi ketegangan tidak segera mereda.
Untuk menanggapi gejolak tersebut OPEC+ yang melibatkan Arab Saudi dan Rusia menyepakati penambahan produksi sebesar 206 ribu barel per hari.
Langkah tersebut dimaksudkan meredam lonjakan harga meskipun banyak pihak meragukan efektivitasnya selama distribusi melalui jalur utama masih terganggu parah.
Presiden Automobile Association Edmund King menekankan bahwa kekacauan di Timur Tengah menjadi pemicu utama gangguan rantai pasok energi secara global.
Besarnya kenaikan harga sangat bergantung pada durasi konflik yang sedang berlangsung cetusnya.
Korps Garda Revolusi Islam Iran IRGC mengklaim telah berhasil menyerang tiga kapal tanker milik Inggris dan Amerika Serikat hingga mengalami kebakaran.
Data dari platform pelacakan Kpler menunjukkan setidaknya seratus lima puluh tanker kini tertahan dan memilih berlabuh di luar selat akibat risiko keamanan yang tinggi serta melonjaknya premi asuransi.
Perusahaan pelayaran raksasa Maersk dari Denmark mengambil keputusan ekstrem dengan menghentikan seluruh pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb serta Terusan Suez.
Rute kapal-kapal Maersk dialihkan memutar melalui Tanjung Harapan Afrika untuk menghindari zona berbahaya.
Eskalasi ini bermula dari operasi udara AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu 28 Februari 2026.
Sejak peristiwa tersebut serangan balasan saling susul menyusul dan mulai meluas ke wilayah Dubai di Uni Emirat Arab Doha di Qatar Bahrain serta Kuwait.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

