Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

[BREAKING NEWS] VIRAL Video Menlu Iran : Setiap Tetes Darah akan Dipertanggungjawabkan, Gegerkan Dunia

 

Repelita Teheran - Di tengah gempuran militer yang terus meluluhlantakkan sejumlah fasilitas strategis dan pemukiman warga, Iran justru mengirimkan pesan perlawanan paling keras ke Washington melalui sebuah pernyataan yang mengguncang dunia.

Video pernyataan tegas Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di televisi pemerintah berhasil menggerakkan perhatian publik internasional dengan kalimat kerasnya.

Dalam wawancara eksklusif dengan NBC News pada Selasa, 17 Maret 2026, Araghchi menegaskan bahwa Teheran tidak pernah dan tidak akan memohon gencatan senjata maupun perundingan di tengah agresi yang sedang berlangsung.

"Amerika Serikat telah menyerang negara kami, Iran, dan sekarang menuntut gencatan senjata dari kami. Dengar, kami tidak akan pernah menyetujui gencatan senjata," katanya dengan nada lantang.

"Balas dendam akan dilakukan, dan setiap tetes darah akan dipertanggungjawabkan," tegasnya membuat dunia terhenyak.

Pernyataan ini seolah menjadi jawaban telak atas spekulasi diplomatik yang menyebut Iran mulai goyah pasca-serangan masif Amerika Serikat dan Israel.

Serangan gabungan kedua negara itu telah memasuki hari ke-18 tanpa menunjukkan tanda-tanda akan mereda di Timur Tengah.

Araghchi justru memperingatkan Presiden Donald Trump bahwa serangan militer terhadap negaranya hanya akan menjadi pertempuran sia-sia.

Pertempuran itu disebutnya tidak akan menghasilkan pemenang di medan perang manapun di kawasan.

Ia juga mengatakan gencatan senjata adalah sesuatu yang dilakukan oleh negara-negara yang tidak mampu membalas dendam atas negaranya sendiri.

Untuk memahami mengapa pernyataan Araghchi begitu keras, kita perlu melihat kembali apa yang terjadi sejak 28 Februari 2026.

Pada hari itu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran tanpa provokasi ke wilayah kedaulatan Iran.

Targetnya bukan hanya instalasi militer, tetapi juga area sipil di berbagai kota besar Iran.

Data terbaru dari Kedutaan Besar Iran untuk PBB mengungkapkan fakta mengerikan di balik serangan tersebut.

Lebih dari 1.300 warga sipil telah tewas dan 9.669 fasilitas sipil hancur dalam serangan militer AS-Israel sejak 28 Februari 2026.

Fasilitas yang hancur itu mencakup 7.943 rumah tinggal, 1.617 pusat komersial dan layanan, 32 fasilitas medis dan farmasi.

Selain itu, 65 sekolah dan institusi pendidikan, 13 gedung Bulan Sabit Merah, serta sejumlah fasilitas pasokan energi juga hancur.

Juru bicara pemerintah Iran, Fateme Mohajerani, dalam laporan televisi pada Sabtu, 14 Maret 2026 memberikan rincian lebih lanjut.

Ia mengonfirmasi bahwa 42.914 fasilitas sipil mengalami kerusakan, di mana 36.469 unit di antaranya adalah rumah tempat tinggal.

Dari jumlah tersebut, 10.000 unit berada di provinsi Teheran saja yang menjadi pusat pemerintahan Iran.

"Jumlah syahid wanita mencapai 223 orang dan jumlah mereka yang cedera akibat serangan ini 2.129," kata Mohajerani kepada Pars Today.

Ia juga menyebutkan bahwa 43 unit UGD rusak, di mana tiga di antaranya rusak total tidak dapat digunakan lagi.

"Sebanyak 32 ambulans rusak, di mana lima ambulans rusak total. Ada tiga bus ambulans yang rusak, 35 unit medis dan 105 unit kesehatan juga mengalami kerusakan," tambahnya.

Yang lebih tragis, 16 petugas kesehatan gugur dan 206 siswa serta guru menjadi syuhada dalam serangan brutal tersebut.

Dalam wawancara eksklusif dengan CBS News, Ahad, 15 Maret 2026, Araghchi menegaskan posisi Iran yang tidak akan goyah.

"Kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami bahkan tidak pernah meminta perundingan. Kami siap mempertahankan diri selama diperlukan," tegas Araghchi.

Pernyataan ini sekaligus membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut Iran telah berulang kali mencoba menghubungi Washington.

Dalam unggahan di media sosial X pada Senin, 16 Maret 2026, Araghchi menyebut klaim tersebut sebagai delusi tanpa dasar.

Ia mengatakan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam akan terus bertempur sampai Trump menyadari kesalahannya.

Trump harus sadar bahwa perang ilegal yang ia paksakan pada rakyat Amerika dan Iran adalah salah dan tidak boleh terulang.

Araghchi menekankan bahwa Washington harus segera menyadari bahwa menyerang Iran adalah sebuah kesalahan kalkulasi yang fatal.

Menurutnya, apa yang dilancarkan AS saat ini adalah perang ilegal yang tidak akan menghasilkan apa-apa selain kerugian bagi kedua belah pihak.

"Kami tidak melihat alasan mengapa harus berunding dengan pihak Amerika. Saat kami sedang berunding, mereka justru memutuskan untuk menyerang. Ini adalah pengkhianatan yang kedua kalinya," cetus Araghchi dengan nada getir.

Ketegasan ini menunjukkan posisi Iran yang memilih bertahan habis-habisan atau total resistance ketimbang kembali ke meja diplomasi.

Mereka menolak berunding dengan posisi tawar yang rendah di tengah agresi musuh.

Dalam konferensi pers mingguan di Teheran, Senin, 16 Maret 2026, Araghchi menjelaskan lebih lanjut tentang filosofi di balik penolakan gencatan senjata.

"Ketika kami mengatakan tidak menginginkan gencatan senjata, itu bukan karena kami ingin melanjutkan perang," jelasnya.

"Itu karena perang kali ini harus berakhir dengan cara yang membuat musuh tidak akan pernah berpikir untuk mengulangi serangan," tegasnya.

Araghchi menuduh para penyerang Iran berusaha memaksa negara itu menuju menyerah tanpa syarat setelah memobilisasi seluruh kemampuan mereka.

Ia menambahkan bahwa lawan-lawan Iran, setelah lebih dari dua minggu konflik, kini justru mencari bantuan dari negara-negara yang sebelumnya mereka anggap bermusuhan.

Mereka juga meminta bantuan internasional untuk mengamankan pelayaran di Selat Hormuz yang kini diblokade Iran.

Meski tensi memanas, Araghchi mengklarifikasi situasi di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.

Ia membantah kabar bahwa Iran telah menutup total jalur perairan paling vital bagi pasokan energi dunia tersebut.

Namun, ia menegaskan bahwa kendali penuh tetap berada di tangan militer Iran untuk menentukan siapa yang boleh lewat.

"Sejumlah negara telah menghubungi kami untuk meminta jaminan jalur aman bagi kapal-kapal mereka. Keputusan ada di tangan militer kami, dan mereka telah mengizinkan sekelompok kapal dari berbagai negara untuk melintas secara aman," jelasnya.

Langkah ini dinilai sebagai manuver cerdas Teheran untuk menunjukkan bahwa mereka masih memegang kendali atas keran ekonomi global di kawasan Teluk.

Sekaligus membedakan antara negara lawan dan mitra netral yang tidak memusuhi Iran.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur air utama yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Jumlah itu setara 20 juta barel per hari, serta 20 persen pasokan gas alam cair global.

Keputusan Iran untuk menutup secara efektif selat ini sebagai respons atas agresi militer AS-Israel telah memicu guncangan hebat pada stabilitas ekonomi global.

Menurut laporan terbaru dari International Energy Agency, harga minyak mentah jenis Brent melonjak drastis.

Harga minyak melampaui angka 150 dolar AS per barel hanya dalam hitungan hari sejak konflik dimulai.

Lonjakan ini diprediksi akan memicu inflasi ganda di negara-negara importir energi.

Hal ini juga mengancam pertumbuhan ekonomi dunia yang sedang dalam masa pemulihan.

Kepala Ekonom International Monetary Fund, Pierre-Olivier Gourinchas, memperingatkan bahwa blokade berkepanjangan di Hormuz dapat memangkas pertumbuhan produk domestik bruto global.

"Dunia kini berada di ambang resesi energi yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak krisis minyak 1973," ujarnya.

Diplomat-diplomat Amerika mulai panik menghadapi krisis energi global yang meluas.

Presiden Donald Trump pada Senin, 16 Maret mengaku tidak yakin perang AS-Israel dengan Iran akan berakhir pekan ini.

"Saya rasa tidak. Namun, segera," jawab Trump ketika ditanya oleh seorang reporter di Gedung Putih.

Trump juga mengatakan akan segera mengumumkan negara-negara yang telah setuju bergabung dengan koalisi yang diusulkan Gedung Putih.

Koalisi tersebut bertujuan untuk mengawal kapal-kapal melewati Selat Hormuz yang rawan serangan.

Namun, tampaknya banyak sekutu AS menunjukkan sikap tidak berkomitmen atau menolak untuk berpartisipasi.

Trump berulang kali mengkritik sekutu-sekutu Eropa atas keengganan mereka membantu Amerika.

"Masalahnya dengan NATO adalah kita selalu ada untuk mereka, tetapi mereka tidak pernah ada untuk kita," keluh Trump.

Petinggi Uni Eropa Kaja Kallas dengan tegas merespons pernyataan Trump tersebut.

"Eropa tidak tertarik pada perang tanpa akhir. Ini bukan perang Eropa, tetapi kepentingan Eropa dipertaruhkan secara langsung," tegasnya.

Sementara itu, China melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Lin Jian menyatakan bahwa Beijing terus berkomunikasi dengan semua pihak.


"Ketegangan terkini di Selat Hormuz dan perairan sekitarnya berdampak pada jalur barang dan energi internasional, merusak perdamaian dan stabilitas regional dan global," kata Lin dalam keterangan resmi.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved