
Repelita Kyiv - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menginginkan uang dan teknologi sebagai bayaran atas bantuan yang diberikan kepada negara-negara Timur Tengah.
Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina tidak memiliki keinginan untuk ikut terlibat dalam perang yang sedang berkecamuk di Iran saat ini.
"Ini bukan soal terlibat dalam operasi. Kami tidak mau ikut dalam perang dengan Iran. Ini terkait dengan perlindungan sebagai bagian mencegah serangan drone Shahed buatan Iran," terangnya, dikutip dari TVP World, Senin 16 Maret 2026.
Sebelumnya, Ukraina sudah mengirimkan pakar drone ke empat negara Timur Tengah sebagai bagian dari upaya bantuan teknis.
Langkah ini merupakan bentuk bantuan dari Ukraina dalam mencegah serangan drone Iran yang kerap mengancam keamanan di kawasan Timur Tengah.
Zelenskyy mengungkapkan bahwa Ukraina masih mendiskusikan soal bayaran atas bantuan yang telah diberikan kepada negara-negara Timur Tengah tersebut.
Namun ia mengatakan yang terpenting bagi Ukraina saat ini adalah teknologi dan pendanaan untuk memperkuat sektor pertahanan dalam negeri.
Sementara itu, presiden Ukraina keenam itu mengaku tidak yakin soal kerja sama pengembangan drone dengan Amerika Serikat meskipun Kiev sudah mengupayakan persetujuan itu selama berbulan-bulan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina, Heorhii Tykhyi menyebut ancaman bahwa Ukraina menjadi target serangan Iran adalah pernyataan yang konyol dan tidak berdasar.
Menurutnya, Iran sudah menjadi pihak yang membunuh warga sipil Ukraina selama bertahun-tahun karena dukungannya terhadap Rusia dalam konflik yang berkepanjangan.
"Pernyataan ini konyol ketika perwakilan dari rezim tersebut mengancam Ukraina sedangkan mereferensikan hak untuk mempertahankan diri sesuai Pasal 51 dalam Piagam PBB. Ini seperti pembunuh berantai yang menjustifikasi kasusnya lewat hukum," terangnya, dilansir Ukrinform.
Produsen drone utama Ukraina, Wild Hornets membantah kabar soal ketertarikan perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco membeli senjata anti-drone buatannya.
Menurut pernyataan resmi perusahaan, kabar mengenai negosiasi dengan Aramco tersebut tidak akurat dan tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Wild Hornets menyebut, perusahaannya masih berfokus untuk memenuhi kebutuhan dari militer Ukraina dan institusi pertahanan lainnya tanpa menjalin kerja sama komersial dengan pihak asing.
Perusahaan itu sudah memproduksi STING drone yang disebut efektif dalam menghalau drone buatan Iran yang kerap digunakan dalam berbagai serangan di kawasan.
Produsen drone Ukraina lainnya, SkyFall juga membantah kabar serupa dan menegaskan belum ada negosiasi dengan perusahaan asing mana pun.
SkyFall sudah mengembangkan pengadang drone P1-SUN yang lebih murah dengan harga seribu dolar AS atau setara seratus enam puluh sembilan juta rupiah.
Selain itu, perusahaan tersebut memproduksi drone FPV, Shrike dan Vampire yang saat ini digunakan secara luas oleh tentara Ukraina di medan pertempuran.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

