Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Anak SD Bunuh Diri karena Tak Mampu Beli Buku, Anwar Abbas: Menyayat Hati, Ini Jelas Salah Negara

Anwar Abbas Ajak Bangun Persatuan Umat Dimulai dari Merawat Harmoni  Keluarga | Muhammadiyah

Repelita Ngada - Peristiwa seorang anak Sekolah Dasar yang mengakhiri hidupnya karena ketidakmampuan membeli buku dan pena mendapat sorotan tajam dari pengamat sosial ekonomi. Anwar Abbas dengan tegas menyatakan bahwa tragedi ini merupakan bentuk kegagalan negara dalam melaksanakan amanat konstitusi untuk melindungi warganya.

“Peristiwa ini benar-benar tragis dan menyayat hati. Ini salah siapa? Jelas salah negara karena tidak hadir melindungi warganya,” ujar Anwar Abbas dalam pernyataan tertulisnya pada Kamis, 5 Februari 2026. Pernyataan ini merujuk pada kasus bunuh diri pelajar SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang dipicu ketiadaan uang kurang dari sepuluh ribu rupiah untuk keperluan sekolah.

Anwar Abbas menegaskan bahwa konstitusi Indonesia secara eksplisit mengamanatkan negara untuk memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Tragedi yang menimpa pelajar tersebut menunjukkan adanya celah dalam sistem perlindungan sosial yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah.

Ia membantah anggapan bahwa ibu dari korban bersikap pelit dengan tidak memberikan uang untuk membeli alat tulis. Sebaliknya, Anwar menjelaskan bahwa kondisi ekonomi keluarga sebagai janda dengan lima anak yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan membuat uang sepuluh ribu rupiah menjadi nominal yang sangat sulit dikeluarkan.

“Melihat pekerjaannya, bukannya ibunya pelit, tapi uang itu memang tidak ada. Atau kalaupun ada, dia harus berhemat ketat,” jelas Anwar Abbas. Situasi ini menurutnya memperlihatkan bahwa negara belum memiliki mekanisme yang efektif untuk mendeteksi dan menangani kesulitan ekonomi warganya sebelum berujung pada tragedi.

Anwar Abbas menyoroti ironi antara nominal kecil yang tidak terpenuhi dengan besarnya anggaran program-program pemerintah. Ia membandingkan kebutuhan korban yang kurang dari sepuluh ribu rupiah dengan biaya per porsi program makan bergizi gratis yang jauh lebih besar.

“Sistem negara kita tampak belum berjalan baik karena belum mampu memantau kesengsaraan warganya hingga terjadi hal fatal seperti ini,” tegasnya. Pernyataan ini menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas program perlindungan sosial yang ada.

Pengamat tersebut menilai peristiwa ini harus menjadi peringatan keras bagi pemerintah untuk segera memperbaiki sistem pendataan dan penyaluran bantuan sosial. Negara diharapkan dapat hadir secara nyata bagi warga yang paling membutuhkan, khususnya anak-anak dari keluarga kurang mampu.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved