Repelita Jakarta - Konten kreator Bobon Santoso angkat bicara terkait kontroversi yang menimpa Dwi Sasetyaningtyas setelah unggahannya memamerkan paspor anaknya sebagai warga negara asing Inggris menjadi viral.
Bobon memberikan tanggapan dengan nada sindiran halus sambil menegaskan kebanggaannya sebagai warga negara Indonesia meskipun memiliki keturunan Tionghoa.
Kami bangga terlahir sebagai WNI.
Ia menyoroti status Dwi Sasetyaningtyas sebagai alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan yang dibiayai penuh oleh negara.
Suami Dwi yaitu Arya Iwantoro juga tercatat sebagai alumni penerima beasiswa yang sama sehingga menjadi sorotan utama dalam perdebatan publik.
Bobon menilai ironis ketika seseorang merasa bangga menerima fasilitas dari negara saat membutuhkan namun kemudian memilih identitas lain untuk generasi berikutnya.
Menarik ya waktu daftar beasiswa LPDP bangga bilang ini kesempatan dari negara dibiayai uang rakyat kuliah di luar negeri dapat gelar dapat jaringan dapat masa depan yang lebih cerah semua atas nama Indonesia.
Menurutnya negara ini cukup baik untuk membiayai pendidikan namun tiba-tiba dianggap tidak layak sebagai identitas jangka panjang bagi anak.
Jadi negara ini cukup baik untuk membiayai pendidikanmu tapi tidak cukup baik untuk masa depan anakmu negara ini layak jadi penopang mimpi tapi tidak layak jadi identitas.
Bobon menekankan bahwa saat membutuhkan dukungan status warga negara Indonesia terasa sangat berharga namun ketika bicara komitmen nasionalisme menjadi pilihan opsional.
Ironisnya saat butuh fasilitas dan dukungan status WNI terasa begitu berharga tapi saat bicara komitmen jangka panjang tiba-tiba nasionalisme jadi opsional.
Ia bertanya mengapa seseorang merasa pantas menerima pembiayaan dari negara jika sejak awal menganggap Indonesia bukan tempat yang layak untuk generasi mendatang.
Kalau memang sejak awal merasa Indonesia bukan tempat yang pantas untuk generasi berikutnya pertanyaannya sederhana kenapa dulu merasa pantas menerima pembiayaan dari negara ini.
Bobon memahami bahwa pilihan kewarganegaraan adalah hak pribadi setiap orang tua namun ia menyoroti soal konsistensi antara apa yang diterima dan apa yang dikembalikan kepada negara.
Pada akhirnya persoalannya bukan soal pilihan kewarganegaraan tapi soal konsistensi antara apa yang diterima dan apa yang dikembalikan Indonesia bukan pilihan kedua Indonesia harus kita perjuangkan bersama.
Ia menegaskan bahwa Indonesia bukan sekadar pilihan sementara melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan secara bersama-sama oleh seluruh warga negara.
Kontroversi ini bermula dari unggahan Dwi yang memamerkan paspor anaknya sebagai warga negara Inggris dan menyatakan cukup dirinya saja yang warga negara Indonesia.
Ucapan tersebut memicu amarah publik karena Dwi dan suaminya pernah mendapat manfaat besar dari beasiswa negara yang mengharuskan kontribusi kembali ke tanah air.
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan kemudian menyatakan akan memanggil Arya Iwantoro karena dugaan belum menyelesaikan kewajiban pasca lulus sebagai penerima beasiswa.
Polemik ini terus bergulir di ruang digital menyoroti isu nasionalisme kewajiban alumni beasiswa serta pilihan identitas di era globalisasi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

