:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/anak-ntt.jpg)
Repelita Kupang - Tragedi meninggalnya seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, meninggalkan luka mendalam sekaligus memunculkan pertanyaan serius terkait kemiskinan ekstrem serta kurangnya perlindungan terhadap anak.
YBS diduga mengakhiri hidupnya karena rasa putus asa menghadapi kondisi ekonomi keluarganya yang sangat terbatas, sebuah kejadian menyedihkan yang menggugah kesadaran publik akan krisis kemanusiaan di balik kemiskinan.
Peristiwa tragis itu berawal dari permintaan sederhana YBS kepada ibunya, MGT berusia 47 tahun, untuk membeli buku dan pena dengan harga di bawah Rp10.000.
Permintaan yang tampak ringan itu tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan finansial yang dialami keluarga.
MGT, seorang janda yang membesarkan lima anak, bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan sehingga nominal kecil pun menjadi beban berat bagi mereka.
Akibat tekanan ekonomi tersebut, YBS diminta tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok sederhana.
Di dekat tempat tinggal neneknya itulah, YBS ditemukan meninggal dunia karena diduga menggantung diri pada dahan pohon cengkeh pada Kamis 29 Januari 2026.
Kejadian memilukan ini memicu keprihatinan luas dari berbagai kalangan masyarakat.
Dosen filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, RD Leonardus Mali, menyatakan bahwa kemiskinan ekstrem sering kali menghancurkan imajinasi anak untuk menemukan kebahagiaan sejak dini.
Dalam situasi keterbatasan berat, anak-anak kehilangan arah serta tujuan hidup yang sehat dan positif.
Menurut Leonardus, anak-anak cerdas dalam kondisi rapuh lebih mudah terpapar informasi tidak tersaring dari media sosial sehingga berpotensi meniru tindakan ekstrem.
Lingkungan ekonomi dan emosional yang tidak stabil membuat anak sangat rentan terhadap pengaruh luar tanpa pendampingan yang memadai.
Anggota DPR dari daerah pemilihan NTT, Andreas Hugo Pareira, menyebut peristiwa ini sebagai pukulan telak bagi seluruh elemen masyarakat.
Ia menegaskan bahwa kematian YBS bukan hanya musibah keluarga melainkan cerminan kegagalan bersama dalam memberikan perhatian, kasih sayang, serta perlindungan bagi anak-anak yang hidup dalam keterpurukan.
Andreas menekankan perlunya penguatan jaring pengaman sosial bagi keluarga miskin ekstrem agar anak mendapatkan akses pendidikan, pendampingan psikososial, serta lingkungan tumbuh yang aman.
Kasus ini kembali membuka diskusi mendalam tentang kemiskinan ekstrem yang tidak sekadar masalah ekonomi melainkan juga krisis kemanusiaan serius.
Di balik data statistik, terdapat anak-anak yang memikul beban berlebih jauh melampaui kemampuan usia mereka.
Tragedi YBS menjadi panggilan untuk melakukan refleksi kolektif mengenai sejauh mana negara, sekolah, komunitas, serta keluarga benar-benar hadir melindungi masa depan anak-anak paling rentan.
Editor: 91224 R-ID Elok

