Repelita Jakarta - Eks Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara Muhammad Said Didu menyoroti mundurnya sejumlah petinggi Otoritas Jasa Keuangan serta Bursa Efek Indonesia dengan menduga adanya tekanan dari penguasa sebagai penyebab utama.
Menurut Said Didu ada dua kemungkinan alasan pejabat mengundurkan diri yaitu karena tanggung jawab moral atau karena ditekan oleh pihak berkuasa dan ia meyakini opsi kedua yang terjadi dalam kasus ini.
“Ada dua kemungkinan orang mundur. Satu karena bertanggung jawab dua karena ditekan penguasa. Saya menduga petinggi OJK dan BEI ini mundur karena tekanan” ujar Said Didu dalam keterangannya belum lama ini.
Said Didu menilai dugaan tekanan tersebut terkait praktik di pasar modal yang sering dimanfaatkan kelompok oligarki untuk meraup keuntungan besar melalui celah regulasi.
Ia menyatakan praktik semacam itu tidak mungkin berlangsung tanpa keterlibatan atau pembiaran dari regulator yang seharusnya mengawasi.
“Banyak peristiwa sebelumnya menunjukkan pasar modal digunakan oligarki untuk mengeruk uang dengan bermain bersama regulator” katanya.
Said Didu secara terbuka menyebut OJK dan BEI sebagai bagian dari sistem yang memungkinkan pencucian uang serta praktik tidak sehat di sektor keuangan.
“Regulator itu OJK dengan Bursa Efek Jakarta untuk mencuci-cuci uang itu” tegasnya.
Ia mengaku sejak awal mencurigai kinerja OJK karena gaji pejabat yang sangat tinggi tidak sebanding dengan hasil pengawasan yang minim.
“Saya dari awal selalu mencurigai OJK. Digaji ratusan juta tapi hampir semua tugas pengawasannya tidak ada yang terlaksana dengan baik” katanya.
Said Didu mencontohkan berbagai masalah yang luput pengawasan seperti judi online pinjaman online ilegal hingga kelemahan pengawasan perbankan.
Ia mengungkap informasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan etika bahwa petinggi OJK serta BEI dipaksa mundur sebelum pukul delapan belas pada hari pengunduran diri.
“Informasi yang bisa dipertanggungjawabkan dunia akhirat menyebutkan bahwa pimpinan BEI dan OJK dipaksa mundur sebelum jam 18.00” tuturnya.
Menurutnya langkah paksaan itu diambil agar praktik di pasar modal tidak berlanjut dan menyelamatkan para pihak yang terlibat.
“Kalau ini dibiarkan hari demi hari semua pemain di bursa bisa selamat. Maka harus mundur semua” lanjutnya.
Said Didu menyayangkan munculnya narasi yang mengglorifikasi pejabat mundur sebagai pahlawan padahal seharusnya tidak demikian.
“Yang disayangkan muncul glorifikasi bahwa mereka pahlawan. Ini tidak benar. Orang-orang yang dianggap pengkhianat kok diberi gelar pahlawan” ujarnya.
Ia juga menyoroti kelompok yang disebut financial engineer yang merekayasa sistem serta jabatan untuk menguasai sektor strategis ekonomi.
“Ada grup financial engineer yang merekayasa semua jabatan di BUMN di sektor keuangan seolah-olah mereka paling hebat” katanya.
Said Didu menilai kelompok tersebut dibayar mahal dengan dalih menjaga integritas keuangan namun justru menjadi bagian dari masalah sistemik.
“Digaji sangat mahal baik di BUMN maupun sektor keuangan. Padahal itu mafia internasional sebenarnya” pungkasnya.
Editor: 91224 R-ID Elok

