
Repelita Jakarta - Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute Center for Public Policy Research Natasya Restu Dewi Pratiwi menilai tumbuh kembang anak tidak cukup hanya difokuskan pada aspek fisik melalui program Makan Bergizi Gratis melainkan juga harus memperhatikan kesehatan mental yang kini menjadi perhatian serius akibat maraknya kasus bunuh diri pada anak.
Natasya menyoroti kasus bunuh diri anak usia dua belas tahun di Demak Jawa Tengah pada Februari dua ribu dua puluh enam yang menjadi tragedi terbaru setelah sebelumnya terjadi kasus serupa pada anak berusia sepuluh tahun di Ngada Nusa Tenggara Timur.
Ia menjelaskan bahwa anak di Ngada diduga mengakhiri hidupnya karena putus asa akibat kemiskinan ekstrem yang membuatnya tidak mampu membeli buku dan pena senilai kurang dari sepuluh ribu rupiah.
Natasya menyatakan bahwa jika faktor ekonomi serta kegagalan akses bantuan sosial menjadi pemicu utama maka sistem perlindungan sosial dan pencatatan kependudukan harus segera diperbaiki secara menyeluruh.
Menurutnya pemerataan layanan kesehatan mental di sekolah desa melalui posyandu serta puskesmas perlu diperkuat oleh pemerintah sebagai langkah pencegahan dini.
Natasya menyarankan agar program Cek Kesehatan Gratis dapat dimanfaatkan sebagai pintu masuk skrining awal bagi anak yang menunjukkan tanda-tanda intensi bunuh diri sehingga mereka bisa segera dirujuk ke layanan profesional.
Ia juga merekomendasikan pelatihan kepada siswa guru orang tua tokoh agama serta tokoh masyarakat untuk mengenali gejala stres cara merawat diri saat mengalami luka psikologis cara mengakses layanan kesehatan mental serta teknik berkomunikasi efektif dengan anak.
Natasya mendesak pemerintah untuk memperbaiki pencegahan bunuh diri anak secara sistematis dengan alokasi anggaran memadai berbasis data dan menyasar faktor struktural yang selama ini diabaikan.
Ia menekankan perlunya penataan ulang prioritas kebijakan dan anggaran agar deteksi dini kesehatan mental anak serta peningkatan kapasitas guru dan orang tua tidak terpinggirkan di tengah pembengkakan anggaran program Makan Bergizi Gratis hingga tiga ratus tiga puluh lima triliun rupiah.
Natasya mengingatkan bahwa perbaikan gizi anak memang penting namun kesehatan mental anak memiliki urgensi yang sama sehingga investasi besar pada satu program tidak boleh menjadikan perlindungan psikososial anak sebagai isu sekunder.
Pernyataan Natasya Restu Dewi Pratiwi tersebut disampaikan kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL pada Minggu 22 Februari 2026 sebagai respons atas maraknya kasus bunuh diri anak belakangan ini. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok

