Repelita Teheran - Komandan senior Korps Garda Revolusi Islam Iran Mayor Jenderal Ebrahim Jabbari menyatakan bahwa rudal yang digunakan untuk menyerang pangkalan militer Amerika Serikat merupakan senjata-senjata lama yang disimpan di gudang persenjataan negara tersebut.
Ia menegaskan bahwa Iran masih menyimpan cadangan senjata yang jauh lebih canggih dan akan segera meluncurkannya dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah eskalasi ketegangan yang semakin tinggi antara Iran dan Amerika Serikat.
“Trump harus tahu bahwa hari ini kami menembakkan rudal-rudal lama dari gudang senjata, dan sebentar lagi kami akan meluncurkan senjata-senjata yang belum pernah Anda lihat sebelumnya,” kata Jabbari seperti dikutip dari Teheran Times pada Sabtu 28 Februari 2026.
Ucapan itu langsung menarik perhatian luas karena mengandung sinyal kuat mengenai kemungkinan eskalasi militer lebih lanjut.
Pesan tersebut secara spesifik ditujukan kepada mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai bentuk peringatan tegas.
Dengan menyebut rudal yang digunakan sebagai senjata lama IRGC berupaya menunjukkan bahwa kapasitas militer Iran belum dikerahkan secara maksimal.
IRGC atau Korps Garda Revolusi Islam merupakan pilar utama kekuatan militer strategis Iran yang bertanggung jawab atas pengembangan serta pengoperasian program rudal balistik dan sistem persenjataan mutakhir.
Strategi komunikasi seperti ini sering diterapkan untuk menciptakan efek pencegahan atau deterrence dengan menampilkan potensi balasan yang lebih besar jika provokasi berlanjut.
Pernyataan Jabbari tidak hanya ditujukan kepada Washington melainkan juga kepada komunitas internasional secara keseluruhan.
Iran ingin menegaskan bahwa teknologi dan sistem persenjataan mereka terus mengalami perkembangan signifikan.
Meskipun demikian pihak IRGC tidak memberikan rincian spesifik mengenai jenis senjata baru yang dimaksud maupun jadwal peluncurannya.
Ketidakjelasan tersebut justru menciptakan rasa ketidakpastian yang dapat memengaruhi perhitungan strategis pihak lawan.
Pernyataan ini muncul menyusul laporan serangan terhadap instalasi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Hubungan Iran dan Amerika Serikat selama ini dipenuhi ketegangan berkepanjangan akibat isu keamanan regional pengaruh geopolitik serta dinamika militer di Timur Tengah.
Retorika keras semacam ini berpotensi memicu respons diplomatik maupun militer dari berbagai pihak yang terlibat.
Analis keamanan menilai pernyataan tersebut dapat meningkatkan tingkat kewaspadaan pasukan di seluruh kawasan.
Negara-negara dengan kehadiran militer di Timur Tengah kemungkinan akan memperkuat sistem pertahanan mereka sebagai langkah antisipasi.
Di sisi lain Iran tampak berupaya memperkuat posisi tawarnya dengan menunjukkan kesiapan serta cadangan kekuatan yang belum digunakan.
Namun strategi retorika semacam ini juga membawa risiko karena dapat semakin mempersempit ruang untuk diplomasi jika tidak diimbangi dengan komunikasi yang hati-hati.
Publik internasional kini menanti langkah konkret selanjutnya dari Teheran apakah ancaman tersebut akan diwujudkan atau tetap sebagai pesan peringatan strategis.
Stabilitas kawasan sangat bergantung pada pengelolaan eskalasi yang bijaksana di tengah situasi yang rapuh.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

