Repelita Jakarta - Pernyataan lama Presiden Prabowo Subianto tentang komitmen menggunakan produk dalam negeri kembali viral dan memicu reaksi tajam dari berbagai kalangan di tengah rencana impor kendaraan dari India.
Pegiat media sosial Herwin Sudikta menyoroti ketidakselarasan antara visi kemandirian yang digaungkan dengan kebijakan impor puluhan ribu unit mobil untuk logistik program Merah Putih.
Herwin menekankan bahwa utang negara terus membengkak sementara APBN semakin tertekan namun pemerintah justru berencana mengimpor tiga puluh lima ribu unit mobil dari India dengan target mencapai seratus lima ribu unit.
“Utang negara naik. APBN makin berat. Tapi kita malah impor 35.000 mobil dari India buat logistik Merah Putih, rencananya 105.000 unit,” ujar Herwin kepada fajar.co.id pada Jumat 27 Februari 2026.
Ia menyindir narasi kemandirian yang selama ini disampaikan pemerintah dengan mempertanyakan mengapa tidak memanfaatkan pasar logistik nasional sebagai proyek percontohan produksi kendaraan dalam negeri.
“Katanya sih demi kemandirian. Lho? Bukannya Prabowo Subianto lagi gembar-gembor mobil nasional?,” sindir Herwin.
Menurut Herwin jika pemerintah serius membangun mobil nasional maka tiga puluh lima ribu unit tersebut seharusnya menjadi stimulus besar bagi industri otomotif lokal bukan malah mengalir ke industri luar negeri.
“35.000 unit itu bukan angka kecil. Itu stimulus besar. Tapi stimulusnya dikasih ke industri luar,” tegasnya.
Herwin juga mengingatkan pentingnya pengelolaan utang secara hati-hati agar belanja negara bersifat produktif bukan konsumtif semata.
Ia menekankan bahwa utang boleh dilakukan selama diarahkan ke sektor produktif seperti transfer teknologi penguatan manufaktur lokal serta penciptaan efek pengganda bagi tenaga kerja domestik.
“Di tengah utang yang terus membengkak, belanja negara seharusnya diarahkan ke yang produktif, transfer teknologi, penguatan manufaktur lokal, efek pengganda ke tenaga kerja, dan bukan sekadar impor massal lalu selesai,” tandasnya.
Herwin menilai utang untuk konsumsi berbeda dengan utang untuk produksi sehingga ironis jika kebijakan ekonomi cenderung konsumtif.
“Utang itu bukan haram. Tapi utang untuk konsumsi beda dengan utang untuk produksi. Ironi? Atau memang arah ekonominya konsumtif?," pungkasnya.
Sebelumnya cuplikan video lama Prabowo kembali ramai di media sosial di mana ia menegaskan visi perlindungan produk dalam negeri untuk generasi muda bangsa.
Dalam rekaman tersebut Prabowo menyatakan bahwa jika menjadi presiden maka anak-anak bangsa akan menggunakan mobil motor jam sabun parfum hingga sepatu buatan Indonesia.
"Adik-adik saya ini semua, nanti kau pakai mobil, mobil buatan Indonesia," ujar Prabowo dalam cuplikan yang dikutip pada Jumat 27 Februari 2026.
Ia juga menegaskan bahwa anak-anak bangsa tidak akan lagi mengendarai motor produksi luar negeri serta menggunakan berbagai barang sehari-hari buatan dalam negeri.
"Kau naik motor, motor buatan Indonesia. Kau pakai jam, jam buatan Indonesia," tegasnya.
"Kau pakai sabun, sabun buatan Indonesia. Kau pakai parfum, parfum buatan Indonesia," tambahnya.
Di hadapan jurnalis senior Najwa Shihab Prabowo menekankan fokus pada pengembangan produksi sepatu dalam negeri sebagai bagian dari cita-cita kemandirian.
"Kau pakai sepatu, sepatu buatan Indonesia. Itu, mbak Nana itu yang saya cita-citakan," tandasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

