Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Dana Asing, Rongrong Poros Kekuatan Pemerintahan Prabowo ?

Momen Akrab Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Sambut Menhan Sjafrie Antar ke  Komisi I DPR

Repelita Jakarta - Analisis kebijakan publik menengarai adanya pola pendanaan asing yang diduga bertujuan merongrong stabilitas pemerintahan saat ini. Mekanisme ini dijalankan melalui kanal media yang memberitakan friksi internal secara berlebihan.

Operasi yang disebut sebagai perang asimetris ini tidak lagi menggunakan senjata konvensional, melainkan mengalirkan dana melalui program yang tampak mulia seperti penguatan masyarakat sipil. Media yang menjadi mitra diduga menerima pembiayaan dari lembaga pendanaan internasional tertentu.

Lembaga pendanaan tersebut memiliki rekam jejak dalam mendanai media di negara-negara yang sedang dalam transisi politik. Meski disampaikan sebagai dukungan untuk demokratisasi, analis memandangnya sebagai instrumen untuk mempengaruhi narasi publik di negara penerima.

Narasi yang dibangun cenderung menyoroti perbedaan pendapat sebagai konflik terbuka di tubuh pemerintahan. Targetnya adalah tokoh-tokoh kunci yang dianggap sebagai poros kekuatan, seperti Sjafrie Sjamsoeddin dan Sufmi Dasco Ahmad.

Kedua figur tersebut dipandang sebagai pilar loyal yang memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dengan menyoroti dan membesar-besarkan dinamika kerja biasa, diharapkan muncul persepsi retak di internal kekuasaan.

Tujuan akhir dari manuver ini adalah menciptakan kegaduhan yang dapat menggoyahkan kepercayaan pasar dan lembaga keuangan nasional. Jika pasar keuangan Indonesia kehilangan kepercayaan, ketergantungan pada lembaga keuangan internasional dapat kembali meningkat.

Analis mengutip doktrin geopolitik yang menyebut bantuan luar negeri sebagai bagian dari strategi pengaruh. Kontrol terhadap narasi dianggap sama pentingnya dengan kontrol militer dalam politik global kontemporer.

Redaksi media mitra diduga menerima materi atau arahan tematik yang selaras dengan agenda donor. Hal ini mengubah peran media dari penjaga kepentingan publik menjadi pelaksana pesanan kepentingan asing.

Pemilihan waktu dan framing pemberitaan dinilai bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari strategi yang terencana. Isu yang diangkat sering kali mengabaikan capaian pemerintah dan fokus pada persoalan internal.

Praktik semacam ini dianggap sebagai bentuk pelacuran profesi jurnalistik yang mengorbankan kedaulatan narasi nasional. Kebebasan pers yang merupakan hasil perjuangan justru dimanfaatkan untuk jalur infiltrasi yang halus.

Membenturkan tokoh-tokoh kunci dianggap sebagai taktik klasik untuk melemahkan pemerintahan dari dalam. Jika poros kekuatan tersebut goyah, ketahanan pemerintah dalam menghadapi tantangan eksternal juga akan berkurang.

Efeknya dapat merambat ke stabilitas ekonomi makro, khususnya di sektor pasar uang dan perbankan. Kepercayaan investor merupakan modal utama yang mudah tergerus oleh narasi konflik yang terus dibangun.

Masyarakat diimbau untuk lebih kritis dalam mencerna informasi dan membedakan antara kritik konstruktif dengan operasi pelemahan. Tidak semua pemberitaan yang terlihat sebagai jurnalisme investigasi memiliki motivasi yang murni.

Pertanyaan mendasar diajukan mengenai loyalitas para pengelola media di tengah arus pendanaan asing. Diperlukan komitmen nasionalisme untuk menjaga kedaulatan informasi di era perang narasi seperti sekarang.

Ancaman terhadap kedaulatan negara tidak hanya datang dari invasi militer, tetapi juga dari infiltrasi pemikiran melalui media. Kewaspadaan terhadap modus operandi semacam ini dianggap sebagai harga mati bagi bangsa yang merdeka.

Pemerintah didorong untuk memperkuat ketahanan di bidang informasi dan komunikasi publik. Masyarakat juga perlu diedukasi untuk memahami kompleksitas perang asimetris di dunia modern.

Upaya menjaga persatuan nasional dan kepercayaan terhadap institusi pemerintah menjadi benteng utama. Soliditas internal adalah kunci untuk menghadapi segala bentuk manuver yang bertujuan memecah belah.

Analisis ini diharapkan dapat membuka mata semua pihak tentang pertarungan di balik layar pemberitaan media. Setiap warga negara memiliki peran dalam menjaga kedaulatan narasi bangsa dari pengaruh asing yang tidak bertanggung jawab.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved