:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bengkulu/foto/bank/originals/Jokowi-Sri-Mulyani-Epsten.jpg)
Repelita Jakarta - Nama Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo serta mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tiba-tiba menjadi perbincangan hangat setelah muncul dalam kumpulan arsip yang disebut Epstein Files.
Epstein Files terdiri dari jutaan dokumen hasil penyelidikan mendalam terhadap Jeffrey Epstein yang terlibat kasus perdagangan seks anak serta dugaan koneksi dengan kalangan elite internasional.
Arsip tersebut mencakup catatan hukum berbagai laporan keuangan serta dokumen dari lembaga global yang luas cakupannya.
Banyak nama tokoh dunia tercantum di dalamnya mulai dari mantan kepala negara hingga pengusaha besar dan pejabat tinggi meski tidak semuanya terkait langsung dengan aktivitas kriminal Epstein.
Di tanah air kemunculan nama Jokowi dan Sri Mulyani langsung memunculkan berbagai spekulasi di kalangan masyarakat terutama terkait sumber kekayaan mereka.
Penyebutan nama Jokowi terdapat dalam dokumen berjudul JP Morgan Global Asset Allocation yang bertanggal 25 Juli 2014.
Dokumen itu merupakan analisis pasar keuangan global yang membahas kondisi ekonomi di negara berkembang termasuk Indonesia.
Jokowi disebut dalam konteks kemenangan pemilihan presiden tahun 2014 serta pandangan investor terhadap stabilitas politik dan prospek pertumbuhan pasar saham di Indonesia.
Penyebutan tersebut murni bersifat ekonomi dan investasi tanpa indikasi hubungan pribadi dengan Jeffrey Epstein.
Nama Sri Mulyani muncul dalam arsip resmi World Bank Group pada Juni 2014 saat ia menjabat sebagai Managing Director sekaligus Chief Operating Officer.
Dokumen tersebut membahas peluncuran President’s Delivery Unit yang bertujuan meningkatkan pemantauan target pembangunan serta akuntabilitas kinerja lembaga.
Pernyataan Sri Mulyani di arsip itu sepenuhnya profesional dan terkait reformasi tata kelola organisasi internasional.
Arsip World Bank masuk ke dalam Epstein Files karena termasuk dokumen lembaga yang disita selama penyelidikan bukan karena keterkaitan langsung dengan Epstein.
Secara keseluruhan kehadiran nama Jokowi dan Sri Mulyani hanya sebagai bagian dari data ekonomi global serta catatan institusi resmi tanpa kaitan dengan jaringan kejahatan Epstein.
Kekayaan Joko Widodo berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara periodik tahun 2024 yang diserahkan pada 13 Maret 2025 mencapai total Rp105.156.746.286.
Rincian harta tersebut meliputi tanah dan bangunan senilai Rp80.512.950.000 yang tersebar di berbagai wilayah seperti Surakarta Sukoharjo Karanganyar Sragen Boyolali hingga Jakarta Selatan.
Alat transportasi dan mesin tercatat Rp397.000.000 sementara harta bergerak lainnya Rp367.950.000 serta kas dan setara kas Rp23.878.846.286.
Tidak ada surat berharga maupun utang sehingga total harta bersih tetap berada di kisaran Rp105,15 miliar.
Kekayaan Sri Mulyani Indrawati tercatat dalam LHKPN khusus akhir masa jabatan yang disampaikan pada 29 Desember 2025 dengan total bersih Rp101.436.829.165 setelah dikurangi utang.
Tanah dan bangunan bernilai Rp49.041.046.561 yang berlokasi di Tangerang Selatan Jakarta Pusat Jakarta Selatan Tangerang serta satu properti di luar negeri.
Alat transportasi dan mesin mencapai Rp544.000.000 harta bergerak lainnya Rp254.700.000 serta surat berharga Rp48.100.494.463.
Kas dan setara kas tercatat Rp12.808.108.317 dengan utang sebesar Rp9.311.520.176 sehingga harta bersih berada di sekitar Rp101,43 miliar.
Kemunculan nama keduanya dalam Epstein Files tidak mengindikasikan keterlibatan dalam skandal melainkan hanya bagian dari laporan investasi dan arsip lembaga internasional.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

