Repelita Jakarta - Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak seiring ancaman aksi militer baru dari Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang terus bergema di berbagai forum internasional.
Namun di balik retorika keras tersebut bayang-bayang kegagalan perang singkat selama 12 hari pada Juni 2025 masih membayangi Washington dan Tel Aviv sebagai pelajaran pahit.
Konflik tersebut dipicu Israel pada 13 Juni 2025 melalui pembunuhan ilmuwan nuklir serta pejabat senior militer Iran sekaligus pembombardiran pemukiman di Teheran yang kemudian diikuti Amerika Serikat dengan menyerang tiga fasilitas nuklir utama di Natanz Isfahan dan Fordow.
Berlawanan dengan harapan Barat Iran justru menunjukkan ketahanan militer luar biasa dengan segera menyusun kembali kekuatan dan melancarkan serangan balasan presisi menggunakan rudal serta drone yang berhasil menembus pertahanan udara Israel dan pangkalan Amerika di Qatar.
Peneliti Inggris dari Koalisi Stop the War Steve Bell menyatakan bahwa serangan balasan Iran telah mematahkan mitos kekebalan Israel dan memberikan alasan kuat bagi Amerika untuk bertindak sangat hati-hati dalam setiap rencana militer baru.
Menurut Bell jika pertahanan udara Israel saja bisa ditembus maka seluruh instalasi militer Amerika di kawasan kini berada dalam posisi sangat rentan dengan risiko yang terlalu tinggi untuk diambil.
Mantan anggota parlemen Inggris Chris Williamson memperingatkan bahwa Iran bukan lawan yang mudah dikalahkan karena telah memperkuat sistem pertahanan udara serta meningkatkan akurasi rudal balistik secara signifikan pasca-perang Juni 2025.
Williamson menambahkan bahwa kehadiran kapal induk USS Abraham Lincoln di Asia Barat justru menjadikannya target empuk bagi rudal Iran sehingga tanggapan Teheran berikutnya diprediksi akan jauh lebih merusak.
Ketangguhan Iran tidak hanya berasal dari perangkat keras melainkan juga dari strategi perang asimetris yang sangat matang yang memungkinkan mereka menyerap pukulan awal dan membalas di titik paling lemah lawan.
Iran mengandalkan kedalaman strategis melalui jaringan fasilitas bawah tanah di Pegunungan Zagros yang sulit dihancurkan bahkan oleh bom penghancur bunker paling canggih sekalipun.
Kemandirian industri pertahanan yang dibangun selama puluhan tahun di bawah sanksi memungkinkan Iran memproduksi rudal balistik presisi serta drone murah dalam jumlah besar untuk menguras sistem pertahanan mahal musuh.
Gudang rudal terbesar di Timur Tengah yang ditempatkan pada peluncur bergerak membuat Iran selalu memiliki kemampuan serangan balasan cepat meski menghadapi pengintaian satelit intensif.
Di laut Iran menerapkan doktrin swarming menggunakan ribuan perahu cepat bersenjata rudal anti-kapal untuk melumpuhkan kapal perang besar di perairan sempit Selat Hormuz.
Drone menjadi angkatan udara utama Iran yang efektif mengecoh radar berkat ukuran kecil dan kemampuan terbang rendah sehingga memberikan dampak strategis dengan biaya sangat rendah.
Jaringan poros perlawanan yang melibatkan Hizbullah milisi Irak serta Yaman memaksa Amerika dan Israel membagi konsentrasi pertahanan karena ancaman datang dari berbagai arah.
Kemampuan intelijen dan operasi siber Iran yang agresif sering kali mengganggu sistem navigasi serta komunikasi lawan sehingga serangan musuh menjadi tidak akurat.
Faktor ideologi dan loyalitas tinggi personel Garda Revolusi menjadi pilar utama yang menjaga semangat tempur serta kemampuan reorganisasi cepat di tengah kekacauan pertempuran.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok.

