Repelita Kudus - Suasana mencekam menyelimuti SMA Negeri 2 Kudus pada Kamis, 29 Januari 2026, setelah sebuah program makan siang yang seharusnya bergizi berubah menjadi bencana.
Aktivitas belajar yang semula berjalan normal berubah drastis menjadi operasi tanggap darurat skala besar, melibatkan puluhan unit ambulans.
Sirine kendaraan emergensi yang memecah kesibukan kota terkenal dengan industri kreteknya itu bukan berasal dari latihan, melainkan respon atas ratusan pelajar yang kolaps.
Insiden keracunan massal ini diduga kuat bersumber dari menu "Makan Bergizi Gratis" atau MBG yang disajikan hari itu, dengan jumlah korban dilaporkan mencapai 118 siswa.
Sementara korban menjalani perawatan, pihak vendor penyedia layanan MBG akhirnya menyampaikan permohonan maaf di tengah hiruk-pikuk lokasi kejadian.
Seorang warganet dengan akun Muhammad Rajab Hasibuan mengkritik pola berulang dalam penanganan kasus serupa di media sosial, "Siklus MBG Setiap Bulan Yang Selalu Berulang² Terjadi: Masak, Makan, Keracunan, Klarifikasi krn ada antek aseng dan sabotase 🤣🤣, Nangis², Minta Maaf, Janji Tidak Terulang Lagi, Gitu Aja Sampai Hari Kiamat Kelak."
Dalam cuitan lanjutannya, dia membandingkan, "Beda Cerita Kalau Keracunan Terjadi di Rumah Makan, Kalau Terjadi di Rumah Makan, pemilik Dipenjara, Rumah Makan Ditutup. Yang Mengkritik MBG Dibilang Tidak Bersyukur/Tidak Beradab,Bahkan Ada Yang Diintimidasi, Sedangkan Kalau Pihak MBG Ketauan Salah Hanya Minta Maaf, Selesai Perkara." (Sumber: akun Muhammad Rajab Hasibuan, 29 Januari 2026).
Investigasi mendalam kini tengah dilakukan oleh pihak berwenang untuk mengungkap akar permasalahan dan titik kegagalan dalam penyelenggaraan program tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

