
Repelita Jakarta - Akar Heluka selaku pimpinan Pasukan Khusus dari Mayor Kopitua Heluka yang menjabat Komandan Operasi Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Komando Daerah Pertahanan Kodap XVI Yahukimo mengklaim bahwa pasukannya berhasil menggagalkan upaya pendaratan pesawat Hercules di Bandara Yahukimo.
Ia menyatakan bahwa pesawat tersebut diduga mengangkut Wakil Presiden Republik Indonesia.
Kami tembak pesawat milik Tentara jenis Herkules yang mau mendarat di bandara dan dia pesawat tersebut itu kembali dari udara tidak mendarat karena pasukan kami tembak kata Akar Heluka dalam pernyataannya kepada Nadi Papua melalui sambungan telepon pada Kamis lima belas Januari dua ribu dua puluh enam.
Menurut penjelasannya pasukan telah mengamankan posisi di sekitar bandara sejak malam hari sebelum kejadian.
Ia menambahkan bahwa sejak pagi hari tiga unit helikopter mendarat membawa personel TNI diikuti dua helikopter lainnya.
Ada dua atau tiga helly itu putar-putar di wilayah yahukimo mereka pantau tapi kami tenang kami tunggu pesawat yang rombongan Wakil Presiden jelas Akar Heluka.
Operasi tersebut menurut klaimnya telah dimulai sejak Selasa tiga belas Januari dua ribu dua puluh enam dengan penembakan terhadap pesawat sipil Trigana Air sebagai sinyal peringatan.
Kami sudah sampaikan bahwa pasukan kami akan masuk di bandara besoknya kami masuk dan sudah tembak pesawat rombongan wakil presiden dan mereka kembali ujarnya tanpa konfirmasi pasti apakah pesawat Hercules yang diserang benar-benar membawa Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Sementara itu Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua Theo Hesegem menyatakan bahwa pesawat Hercules yang ditumpangi Wakil Presiden kembali dari Wamena akibat informasi mengenai penembakan terhadap pesawat sebelumnya menuju Yahukimo.
Benar ada informasi penembakan di sekitar bandara Yahukimo tetapi Pesawat Herkules yang ditumpangi Wapres itu kembali dari Wamena karena mungkin ada laporan alasan keamanan tuturnya.
Theo Hesegem menilai pembatalan kunjungan Wakil Presiden ke Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua Tengah menunjukkan adanya konflik bersenjata yang masih berlangsung di wilayah timur Indonesia.
Ia menekankan bahwa pemerintah yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto perlu menyadari realitas keamanan di daerah tersebut.
Contohnya sangat sederhananya kunjungan kenegaraan yang dilakukan Wapres RI di Papua tidak berhasil menuju Yahukimo karena Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat TPNPB melakukan penembakan terhadap pesawat Hercules sehingga beliau kembali ke Jakarta dengan alasan perintah balik.
Seharusnya Wapres berkunjung saja ke Yahukimo kalau merasa daerah itu aman karena pandangan orang Jakarta dan intelijen menganggap Papua aman kalau Wapres berangkat ke Jakarta tanpa berkunjung ke Kabupaten Yahukimo berarti Papua tidak aman padahal pemerintah pusat dan intelijen menilai aman dan terkendali kok tiba-tiba Wapres balik ke Jakarta jelas Hesegem.
Menurutnya hal tersebut mengindikasikan bahwa kerja intelijen tidak berjalan secara profesional karena jika wilayah Yahukimo diketahui rawan seharusnya kunjungan tidak dijadwalkan.
Ia juga mempertanyakan urgensi agenda kunjungan tersebut yang lebih didorong oleh kepentingan infrastruktur dari Jakarta ketimbang upaya penyelesaian konflik bersenjata atau pelanggaran hak asasi manusia di Papua.
Perlu juga diketahui bahwa pembangunan infrastruktur silakan saja dibangun tetapi jika daerah tidak aman pasti ada korban dan proses pekerjaan akan gagal ada pengalaman pengusaha pekerja dibunuh atau dieksekusi oleh TPNPB tetapi pengalaman ini tidak pernah dievaluasi oleh pemerintah pusat hingga ke daerah tambah Hesegem.
Ia menyimpulkan bahwa kunjungan Wakil Presiden tersebut bersifat seremonial semata atau Bapak datang anak senang.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

