
Repelita Jakarta - Kepala Bidang Advokasi Guru Persatuan Guru Republik Indonesia Iman Zanatul Haeri menanggapi klaim bahwa program Makan Bergizi Gratis tidak mengurangi kesejahteraan guru melalui unggahan di akun X pribadinya pada 22 Januari 2026.
Ia menyatakan bahwa anggaran pendidikan dalam APBN saat ini mencapai tujuh ratus enam puluh sembilan koma satu triliun rupiah namun setelah dikurangi alokasi dua ratus dua puluh tiga triliun rupiah untuk program Makan Bergizi Gratis maka sisanya hanya lima ratus empat puluh enam triliun rupiah yang lebih rendah dibandingkan tahun dua ribu dua puluh tiga.
Menurutnya hal tersebut menunjukkan penurunan nyata pada anggaran pendidikan inti sehingga sulit dipahami jika dikatakan tidak ada dampak negatif.
Iman Zanatul Haeri juga menegaskan bahwa tidak ada kenaikan tunjangan guru non-ASN sebesar seratus persen seperti yang diklaim karena berdasarkan pidato presiden kenaikan hanya lima ratus ribu rupiah dari satu setengah juta menjadi dua juta rupiah.
Ia menjelaskan bahwa meskipun guru ASN digaji oleh pemerintah daerah anggaran tersebut bersumber dari dana transfer pendidikan sehingga pemangkasan transfer ke daerah akan berimbas pada kemampuan daerah mengalokasikan dana untuk kesejahteraan guru.
Terkait guru honorer negeri yang hampir habis setelah pengangkatan PPPK namun gaji mereka justru lebih rendah dari sebelumnya ia menunjukkan kisaran dari seratus tiga puluh sembilan ribu rupiah hingga lima ratus ribu rupiah yang menunjukkan kondisi tidak membaik.
Ia menilai prinsip utama adalah guru tetap dalam kondisi tidak sejahtera meskipun anggaran negara besar namun negara gagal memberikan gaji layak bagi mereka.
Masalah sistemik dalam rekrutmen guru juga disorot karena distribusi guru tidak sesuai kebutuhan sehingga kepala sekolah terpaksa melakukan rekrutmen darurat agar kelas tidak kosong dan guru honorer masih ada hingga kini.
Iman Zanatul Haeri menyarankan agar infografis terkait kesejahteraan guru diperbarui tanpa mencantumkan nama atau lembaga tertentu karena data tersebut dianggap menyesatkan.
Ia menyebutkan bahwa Komisi X DPR baru-baru ini mempertanyakan pemangkasan anggaran Pendidikan Profesi Guru sebesar satu triliun rupiah padahal skema PPG merupakan janji pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru.
Kutipan lengkap dari unggahan Iman Zanatul Haeri berbunyi "Ini keliru.
1. Kalau APBN untuk pendidikan sekarang 769,1 Triliun, dikurangi MBG 223 Triliun, berarti APBN untuk pendidikan kita 546 Triliun, lebih rendah dari tahun 2023. Itu namanya Turun. Kurang jelas?
2. Tidak ada tunjangan guru Non-ASN naik 100%. Coba denger pidato Presiden, naiknya hanya 500 ribu dari 1,5 ke 2 juta.
3. MBG tidak mengganggu anggaran untuk guru? guru ASN digaji Pemda, itu diambil dari anggaran pendidikan. Maka ketika transfer ke daerah dipangkas, berimbas pada kemampuan daerah dalam mengalokasikan anggaran untuk guru.
4. Guru Honorer negeri hampir tidak ada setelah adanya pengangkatan PPPK PW. Namun, setelah diangkat, ternyata gaji mereka lebih rendah dari honorer. Kenapa? lihat nomor dua. Dari 139 ribu-500 ribu.
5. Apakah guru honorer makin sejahtera? tidak. Prinsipnya, adalah guru yang tidak sejahtera. Disitu negara bermasalah jika anggarannya besar, tapi tidak sanggup menggaji guru dengan layak.
6. Ada masalah sistemik dalam rekeuitmen guru. Sampai sekarang masih ada guru honorer, karena distribusi guru tidak sesuai kebutuhan, atau ketika dibutuhkan lemah distribusi, sehingga kepala sekolah melakukak rekruitmen darurat asal kelas tidak kosong.
7. Sebaiknya diupdate lagi infografis tanpa nama/ tanpa lembaga tersebut. Baru-baru ini Komisi X mempertanyakan mengapa anggaran Pendidikan Profesi guru dipangkas 1 Triliun.
Padahal, PPG ini adalah skema yang dijanjikan pemerintah untuk mensejahterakan guru. Eh dikurangi juga. Kurang jelas apa kesejahteraan guru berkurang akibat MBG?"
Unggahan tersebut memicu diskusi di platform X termasuk tanggapan dari pengguna lain yang saling bertukar argumen mengenai dampak program Makan Bergizi Gratis terhadap sektor pendidikan dan guru.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

