Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Menkeu Purbaya Ungkap Harga Asli Energi, Subsidi 2024 Capai Ratusan Triliun dan Masih Dinikmati Warga Mampu

 Menkeu Purbaya Ungkap Harga Pertalite Seharusnya Rp 11.700 per Liter dan LPG 3 Kg Rp 42.750

Repelita Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan perbedaan harga barang-barang subsidi yang selisihnya selama ini ditanggung pemerintah.

Barang-barang tersebut meliputi Pertalite hingga LPG 3 kilogram untuk realisasi tahun anggaran 2024.

Pemberian subsidi ini disebut sebagai bentuk keberpihakan fiskal agar masyarakat bisa menikmati harga energi yang lebih murah.

Untuk Pertalite, harga keekonomian seharusnya Rp 11.700 per liter.

Namun masyarakat hanya membayar Rp 10.000 per liter.

Sehingga APBN harus menanggung Rp 1.700 atau 15 persen melalui kompensasi, kata Purbaya dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Selasa 30 September 2025.

Pada 2024, realisasi subsidi Pertalite tercatat Rp 56,1 triliun.

Penerima manfaat subsidi ini lebih dari 157,4 juta kendaraan.

Subsidi lebih besar terlihat pada Solar.

Dari harga keekonomian Rp 11.950 per liter, masyarakat hanya membayar Rp 6.800 per liter.

Selisih Rp 5.150 atau 43 persen ditanggung APBN.

Realisasi subsidi Solar tahun 2024 mencapai Rp 89,7 triliun.

Penerima manfaatnya lebih dari 4 juta kendaraan.

Untuk minyak tanah, harga keekonomian mencapai Rp 11.150 per liter.

Masyarakat cukup membayar Rp 2.500 per liter.

Subsidi yang ditanggung APBN mencapai Rp 8.650 atau 78 persen.

Total realisasi subsidi minyak tanah tahun 2024 sebesar Rp 4,5 triliun.

Penerima manfaatnya sebanyak 1,8 juta rumah tangga.

Pada LPG 3 kilogram, subsidi bahkan lebih tinggi, yakni 70 persen.

Harga keekonomian Rp 42.750 per tabung.

Masyarakat hanya membayar Rp 12.750.

Dengan demikian, APBN menanggung Rp 30.000 per tabung.

Realisasi subsidi LPG 3 kilogram pada 2024 mencapai Rp 80,2 triliun.

Jumlah pelanggan penerima manfaat sebanyak 41,5 juta.

Untuk LPG 3 kg, subsidi mencapai 70 persen dari harga keekonomian.

Pola serupa terjadi pada listrik, solar, dan minyak tanah, jelasnya.

Di sektor kelistrikan, untuk rumah tangga 900 VA bersubsidi, masyarakat hanya membayar Rp 600 per kWh.

Harga keekonomian listrik tersebut adalah Rp 1.800 per kWh.

Selisih Rp 1.200 atau 67 persen ditanggung melalui subsidi.

Realisasi subsidi listrik 900 VA bersubsidi tahun 2024 sebesar Rp 156,4 triliun.

Penerima manfaatnya sebanyak 40,3 juta pelanggan.

Untuk listrik rumah tangga 900 VA non-subsidi, masyarakat membayar Rp 1.400 per kWh.

Harga keekonomian Rp 1.800 per kWh.

Selisih Rp 400 atau 22 persen ditanggung melalui kompensasi.

Realisasi kompensasi listrik non-subsidi tahun 2024 sebesar Rp 47,4 triliun.

Penerima manfaatnya sebanyak 50,6 juta pelanggan.

Subsidi juga diberikan pada pupuk.

Untuk pupuk Urea, harga keekonomian Rp 5.558 per kilogram.

Petani hanya membayar Rp 2.250 per kilogram.

Selisih Rp 3.308 atau 59 persen ditanggung APBN.

Realisasi subsidi pupuk Urea tahun 2024 sebesar Rp 47,4 triliun.

Jumlah pupuk yang disubsidi sebanyak 7,3 juta ton.

Sementara pupuk NPK memiliki harga keekonomian Rp 10.791 per kilogram.

Masyarakat hanya membayar Rp 2.300 per kilogram.

Subsidi yang ditanggung mencapai Rp 8.491 atau 78 persen per kilogram.

Ini adalah bentuk keberpihakan fiskal agar tepat sasaran dan berkeadilan, tegas Purbaya.

Namun ia mengakui, berdasarkan data Susenas, masyarakat sangat mampu masih menikmati porsi signifikan dari subsidi energi ini.

Oleh karena itu, pemerintah akan terus berupaya melakukan perbaikan agar subsidi benar-benar lebih tepat sasaran.

Ke depan kita akan terus berusaha agar subsidi dan kompensasi tepat sasaran dan berkeadilan, terangnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved