Repelita Jakarta - Konflik yang semakin membara di Timur Tengah kini mulai mengguncang fondasi perekonomian dunia melalui sektor energi.
Raksasa minyak Arab Saudi Aramco terpaksa menghentikan operasi kilang Ras Tanura secara mendadak pada Senin 2 Maret 2026 setelah fasilitas strategis itu menjadi target serangan pesawat tanpa awak yang diduga diluncurkan dari Iran.
Insiden tersebut menjadi bagian dari gelombang serangan balasan Teheran yang memasuki hari ketiga sejak operasi militer Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Kompleks Ras Tanura berada di tepi Teluk Arab dan merupakan salah satu pusat penyulingan minyak terbesar di kawasan dengan kemampuan mengolah hingga 550 ribu barel setiap hari sekaligus menjadi terminal ekspor minyak mentah utama bagi Kerajaan Saudi.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi melalui siaran Al Arabiya TV menyatakan bahwa pertahanan udara berhasil mengintersep dua pesawat nirawak yang mengarah ke lokasi tersebut meskipun serpihan dari drone memicu api dalam skala terbatas.
Penutupan kilang dilakukan sepenuhnya sebagai upaya pencegahan sementara situasi diklaim telah terkendali sepenuhnya tanpa menimbulkan korban jiwa ungkap seorang sumber dari kalangan industri yang dikutip Reuters.
Meski demikian kepanikan di pasar keuangan tidak dapat dicegah karena penutupan ini berbarengan dengan gangguan parah pada lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar seperlima konsumsi minyak global.
Akibat serangkaian serangan terhadap kapal-kapal pada Minggu 1 Maret 2026 harga minyak mentah jenis Brent langsung melonjak sekitar sepuluh persen dalam perdagangan Senin.
Analis senior Timur Tengah dari Verisk Maplecroft Torbjorn Soltvedt menyebut serangan ke Ras Tanura sebagai langkah eskalasi yang sangat mengkhawatirkan karena menempatkan infrastruktur energi Teluk dalam bidikan langsung Iran.
Ia menambahkan bahwa tindakan Teheran ini berpotensi mendorong Arab Saudi serta negara-negara Teluk lainnya untuk semakin mendekatkan diri pada koalisi militer yang dipimpin Amerika Serikat dan Israel.
Serangan tersebut memperpanjang rentetan target di sepanjang kawasan Teluk termasuk Abu Dhabi Dubai Doha Manama serta pelabuhan Duqm di Oman yang semuanya telah terdampak dalam beberapa hari belakangan.
Sebagai respons preventif produksi minyak di wilayah Kurdistan Irak yang menyalurkan sekitar 200 ribu barel per hari ke Turki juga telah dihentikan sejak akhir pekan lalu.
Riwayat serangan terhadap fasilitas energi Saudi bukan hal baru karena pada September 2019 kilang Abqaiq dan Khurais pernah dilumpuhkan sehingga mengganggu sebagian besar output minyak kerajaan dan mengguncang pasar internasional.
Pada 2021 Ras Tanura juga sempat menjadi sasaran serangan dari milisi Houthi yang didukung Iran meskipun Riyadh menyebutnya sebagai upaya gagal yang mengancam keamanan pasokan energi dunia secara keseluruhan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

