Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Serangan AS-Israel ke Teheran Ubah Konflik Bayangan Jadi Konfrontasi Adidaya, Risiko Eskalasi Regional Tak Terhindarkan

 Anies dan Ganjar Dianggap Tak Hargai Kinerja TNI Usai Nilai Kecil Kinerja  Kemenhan, Selamat Ginting: Blunder, Menjatuhkan Nilai Moral

Repelita Jakarta - Pengamat politik dan militer dari Universitas Nasional Dr Selamat Ginting menilai serangan gabungan Amerika Serikat serta Israel terhadap wilayah Iran pada Sabtu 28 Februari 2026 sebagai salah satu peristiwa paling kritis dalam tatanan internasional sejak berakhirnya Perang Dingin.

Menurutnya peristiwa tersebut bukan sekadar aksi militer terbatas melainkan langkah strategis yang berpotensi mengubah struktur keamanan di Timur Tengah dan bahkan pengaruhnya mencapai tataran global.

Dr Selamat Ginting menyatakan bahwa pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut operasi ini sebagai major combat operations merupakan sinyal konfrontasi terbuka yang ditujukan tidak hanya kepada Teheran melainkan juga kepada Moskow Beijing Riyadh serta Brussel.

Selama beberapa dekade terakhir konflik antara Israel dan Iran berlangsung dalam bentuk perang bayangan yang meliputi sabotase fasilitas nuklir serangan siber operasi rahasia serta pertempuran tidak langsung melalui kelompok proksi.

Kini fase tersebut telah berakhir karena serangan udara langsung ke kawasan sekitar Teheran menunjukkan eskalasi signifikan yang bukan lagi bersifat simbolis melainkan bukti nyata kemampuan serta tekad untuk menyerang pusat kekuatan politik dan militer Iran.

Keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam operasi ini mengubah seluruh dinamika sebelumnya di mana Israel kerap bertindak sendiri dengan risiko yang relatif terkendali kini konflik membawa dimensi kekuatan super power sehingga ambang batas eskalasi menjadi sangat rapuh.

Secara militer sasaran utama operasi ini jelas yakni melemahkan sistem rudal balistik jaringan komando serta kontrol serta infrastruktur militer Iran yang dianggap mengancam keamanan Israel dan pangkalan Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia.

Target yang lebih sensitif tetap pada program nuklir Iran yang selama ini menjadi inti ketegangan utama di kawasan tersebut.

Secara geopolitik serangan ini lebih dari sekadar upaya pencegahan melainkan bentuk pemaksaan strategis guna memaksa Iran menerima batasan-batasan yang sebelumnya tidak berhasil dicapai melalui jalur diplomasi.

Pengamat tersebut mengingatkan bahwa tekanan militer dari luar kerap kali justru memperkuat solidaritas internal serta nasionalisme defensif di dalam negeri Iran alih-alih melemahkannya terutama ketika serangan menyasar wilayah metropolitan seperti Teheran.

Risiko terbesar bukan terletak pada serangan awal melainkan pada respons balasan Iran yang memiliki rentang luas mulai dari rudal balistik drone jarak jauh serangan siber hingga pengaktifan jaringan proksi di Lebanon Irak Suriah serta Yaman.

Apabila kelompok seperti Hezbollah terlibat aktif maka Israel berpotensi menghadapi perang di dua front sekaligus sementara serangan terhadap pangkalan Amerika Serikat di Teluk dapat mendorong Washington untuk memperluas skala operasi.

Konflik berisiko bertransformasi dari operasi terbatas menjadi perang regional yang melibatkan wilayah Levant dan Teluk Persia secara bersamaan sehingga perhitungan militer menjadi sangat rumit.

Serangan cepat mungkin mencapai keberhasilan taktis namun tanpa strategi keluar yang jelas operasi tersebut berpotensi berubah menjadi konflik berkepanjangan yang sulit dikendalikan.

Dampak paling segera akan terasa pada pasar energi global karena ancaman terhadap Selat Hormuz sebagai jalur utama ekspor minyak dunia dapat memicu kenaikan harga energi yang signifikan terutama bagi negara-negara pengimpor di Asia.

Secara diplomatik polarisasi internasional hampir tidak terelakkan di mana Rusia dan Tiongkok kemungkinan besar akan mengutuk operasi tersebut sambil meningkatkan dukungan politik kepada Iran.

Negara-negara Arab di Teluk berada dalam posisi dilematis karena khawatir terhadap Iran sekaligus cemas akan instabilitas kawasan yang semakin meluas.

Eropa diperkirakan akan mendorong gencatan senjata serta kembalinya dialog namun dalam suasana yang sudah memanas ruang untuk diplomasi menjadi semakin sempit.

Dunia saat ini berada pada titik persimpangan penting apakah serangan ini hanya operasi terbatas dengan tujuan pencegahan atau justru menjadi awal dari perang regional berskala besar.

Bila respons Iran tetap terkendali maka konflik mungkin masih dapat dibatasi dalam koridor tertentu namun apabila pembalasan meluas maka eskalasi berpotensi lepas kendali dari para pengambil keputusan awal.

Tanggal 28 Februari 2026 telah menandai babak baru dalam persaingan panjang di Timur Tengah di mana keputusan dalam hitungan jam dapat menentukan arah dunia untuk waktu yang sangat lama ke depan.

Pertanyaan krusial sekarang bukan hanya siapa yang unggul secara militer melainkan siapa yang mampu menahan diri secara politik dalam situasi yang sangat tegang ini.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved