Repelita Jakarta - Manuver Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu perhatian tajam setelah proposal tarifnya ditolak oleh sistem hukum domestik negara tersebut sehingga ia beralih mengancam Iran dengan eskalasi baru.
Pengamat politik Rocky Gerung menilai Indonesia berada dalam posisi sulit menyusul kesepakatan tarif yang lebih dulu dibuat Presiden Prabowo Subianto dengan Trump.
Sistem hukum Amerika sudah menolak proposal Trump sembilan belas persen itu artinya ada problem serius di dalam negeri dia sendiri kata Rocky dalam tayangan di akun YouTube pribadinya dikutip Senin 23 Februari 2026.
Menurutnya Trump kini menghadapi dua risiko besar yaitu tekanan impeachment di dalam negeri serta kemungkinan membuka front konflik militer dengan Iran.
Jika Trump memilih jalur eskalasi militer dampaknya tidak hanya mengguncang Timur Tengah melainkan juga merembet ke stabilitas global termasuk perjanjian yang telah terjalin dengan Indonesia.
Rocky menekankan Indonesia harus membaca situasi ini secara cermat terutama setelah kesepakatan tarif yang dinilai sebagian kalangan merugikan kepentingan nasional serta posisi Indonesia terhadap isu Palestina.
Jangan sampai kita tertinggal lagi untuk mengantisipasi gerak-gerik Trump di dalam proses politik di dalam negerinya sendiri ujarnya.
Ia menyoroti kelemahan diplomasi Indonesia yang tampak kehilangan orientasi di tengah dinamika politik Amerika Serikat yang bergejolak.
Di satu sisi pemerintahan sebelumnya gencar mengampanyekan kedekatan dengan BRICS sebagai simbol keberpihakan pada Global South dan multipolaritas di luar NATO.
Namun di sisi lain langkah menjalin kesepakatan strategis dengan Trump justru memberi kesan Indonesia merapat ke poros berbeda sehingga menimbulkan inkonsistensi.
Pada akhirnya kita kehilangan orientasi sebetulnya tegas Rocky.
Ia mengingatkan kembali warisan politik luar negeri bebas aktif yang dirumuskan para pendiri bangsa seperti Wakil Presiden Mohammad Hatta pada 2 September 1948 di Yogyakarta yang menegaskan Indonesia tidak memihak blok Barat maupun blok Timur.
Prinsip mendayung di antara dua karang itu menurut Rocky tetap relevan di tengah ketegangan Amerika-Iran serta perubahan konstelasi global saat ini.
Rocky juga menyinggung potensi pelemahan posisi Trump menjelang pemilu sela di Amerika Serikat yang dapat berdampak pada Indonesia karena telah lebih dulu membangun kedekatan strategis.
Ketika Trump kuat Indonesia merasa akan berguna kalau ikut Trump sekarang kalau Trump melemah maka kita juga ikut melemah katanya.
Di tengah ancaman konflik Iran dan gejolak politik Washington Rocky mendorong pemerintah memperkuat kapasitas diplomasi dengan kembali pada prinsip perdamaian.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia pernah memenangkan perdebatan di forum internasional saat menghadapi agresi militer Belanda berkat kecerdikan diplomasi di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Dengan status negara Muslim terbesar pengalaman memimpin ASEAN serta sejarah Konferensi Asia-Afrika Indonesia memiliki modal kuat untuk memainkan peran strategis dalam realignment politik global.
Rocky menyebut dunia saat ini bergerak menuju multipolaritas baru sehingga Indonesia berpeluang memimpin konsolidasi Global South bukan sekadar mengikuti manuver kekuatan besar.
Kalau kapasitas diplomasi kita kuatkan dengan balik pada prinsip-prinsip perdamaian dan lakukan apa yang pernah dikerjakan Bung Karno dan Bung Hatta Indonesia bisa jadi jembatan baru bagi perubahan relasi global ujarnya.
Di tengah ketidakpastian arah kebijakan Trump dan potensi konflik Timur Tengah perdebatan tentang orientasi diplomasi Indonesia kembali mengemuka bukan hanya soal perjanjian tarif atau manuver geopolitik melainkan konsistensi menjaga prinsip bebas aktif di tengah badai politik dunia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

