:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/trends/foto/bank/originals/Mahfud-MD-memberikan-respons-menohok-ke-Dwi-Sasetyaningtyas.jpg)
Repelita Jakarta - Polemik seputar pernyataan Dwi Sasetyaningtyas yang viral terus bergulir di tengah masyarakat dan belum menunjukkan tanda mereda hingga kini.
Nama alumni LPDP tersebut terseret dalam tuduhan telah menghina Indonesia melalui ucapannya yang dianggap melukai rasa kebangsaan banyak orang.
Sorotan tajam datang dari pakar hukum tata negara Mahfud MD yang secara terbuka menyatakan kemarahannya atas pernyataan Tyas meski tetap berusaha memahami akar kekecewaan di baliknya.
Ucapan kontroversial itu berbunyi cukup aku saja yang WNI anakku jangan yang disampaikan dalam video saat ia memperlihatkan dokumen kewarganegaraan Inggris milik anaknya.
Video tersebut langsung memicu reaksi keras dari publik dengan sebagian besar menganggapnya sebagai bentuk pelecehan terhadap Tanah Air yang telah membiayai pendidikannya melalui beasiswa negara.
Label kacang lupa kulitnya pun melekat padanya karena statusnya sebagai penerima dana publik dari LPDP.
Kontroversi ini juga menyeret suaminya Arya Pamungkas Irwantoro yang sama-sama alumni LPDP dan dikenai sanksi pengembalian seluruh bantuan pendidikan.
Sanksi terhadap Arya disebutkan bukan terkait video sang istri melainkan karena tidak memenuhi kewajiban kembali ke Indonesia pasca lulus sesuai aturan program beasiswa.
Mahfud menjelaskan kemarahannya timbul karena Tyas dianggap melupakan kontribusi negara dalam kesuksesannya dan justru melecehkan Indonesia secara terbuka di hadapan publik.
Saya mendengar itu marah dan itu bertentangan dengan prinsip yang selalu saya katakan yaitu jangan pernah lelah mencintai Indonesia sepertinya dia lelah ini ujarnya dalam kutipan dari YouTube Mahfud MD pada Rabu dua puluh lima Februari dua ribu dua puluh enam.
Ia menambahkan bahwa pernyataan tersebut menyakiti hati banyak orang karena Tyas memperoleh kenikmatan dari Indonesia namun justru menghinanya dengan cara yang sangat menyakitkan.
Meski marah Mahfud juga melihat polemik ini sebagai pelajaran berharga bagi pemerintah untuk lebih peka terhadap kekecewaan masyarakat dalam merumuskan kebijakan ke depan.
Ia menyamakan kasus Tyas dengan fenomena gerakan tagar KaburAjaDulu yang muncul dari rasa kecewa serupa terhadap kondisi dalam negeri.
Menurutnya kedua fenomena itu lahir dari akumulasi perasaan tidak terlayani dengan baik sebagai warga negara sehingga muncul keinginan untuk pergi.
Kalau di dalam tidak terlayani dengan baik sebagai warga negara ya kabur aja dulu itu serangkaian karena nampaknya pemerintahannya terlalu steril dari kritik-kritik itu paparnya.
Mahfud menyoroti bahwa kritik masyarakat sering dianggap angin lalu dan tidak dijadikan bahan evaluasi serius oleh penguasa.
Masyarakat ngritik dianggap salah atau ya sudah silahkan kritik kami tetap jalan tegasnya menggambarkan sikap yang dianggap acuh.
Ia menekankan bahwa nasionalisme bisa terkikis ketika rakyat merasa hak dasar hidup layak tidak terpenuhi termasuk sandang pangan dan papan.
Berbagai persoalan seperti pemerasan saat berusaha mencari kerja hingga biaya eksekusi vonis meski sudah inkrah menjadi contoh nyata pemicu kekecewaan.
Mahfud menyatakan bahwa kebutuhan hidup menjadi prioritas utama sehingga ketika tidak terpenuhi wajar jika muncul sikap ingin meninggalkan negeri sendiri.
Meski tetap marah atas ucapan Tyas ia juga memahami bahwa pernyataan tersebut muncul dari fakta kekecewaan yang sering terjadi di tanah air.
Mbak Tyas saya marah kepada Anda menghina republik ini tapi juga saya paham bahwa apa yang Anda katakan itu karena fakta yang sering mengecewakan di tempat kita tutupnya.
Ia mengajak semua pihak termasuk Tyas untuk terus mencintai Indonesia mengingat keberhasilan yang diraih tidak lepas dari peran negara melalui berbagai program termasuk LPDP.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

