
Repelita Jakarta - Kembalinya Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni setelah masa nonaktif enam bulan memicu reaksi keras dari berbagai pihak.
Pegiat media sosial Alifurrahman menilai sanksi nonaktif tersebut tidak memberikan dampak berarti terhadap posisi politik yang bersangkutan.
Nonaktif enam bulan bagi Sahroni hanya seperti libur panjang.
Ia menyoroti fakta bahwa Sahroni tidak hanya kembali sebagai anggota DPR melainkan juga langsung memimpin kembali Komisi III.
Menurutnya hal ini menjadi yang paling mengejutkan di tengah kritik dan demonstrasi sebelumnya yang mengarah kepadanya.
Alifurrahman juga mengungkit aksi demonstrasi serta penjarahan yang sempat terjadi di kediaman Sahroni beberapa waktu lalu.
Meski terjadi perusakan dan pencurian barang mewah kondisi itu tidak mengubah posisi politik Sahroni secara signifikan.
Ia menilai kerugian materi tidak sebanding dengan total kekayaan yang dimiliki sehingga kekuatan finansial menjadi faktor dominan dalam dinamika politik Indonesia.
Pada akhirnya rakyat yang demo tetap kalah dengan kekuatan uang.
Alifurrahman turut menyoroti sikap Partai NasDem yang kembali menunjuk Sahroni sebagai pimpinan Komisi III dengan alasan pengalaman serta kapasitas.
Ia menilai keputusan itu menunjukkan partai tetap percaya pada kadernya meski sebelumnya menuai kontroversi publik.
Rapat pleno penetapan tersebut diketahui dipimpin oleh Wakil Ketua DPR RI dari Partai Gerindra yang memperlihatkan kuatnya dukungan politik di internal parlemen.
Dalam pandangannya polemik ini memperlihatkan bahwa etika politik sering kali kalah oleh konfigurasi kekuasaan.
Ia menyebut kembalinya Sahroni sebagai bukti bahwa dinamika elite politik tidak selalu sejalan dengan tuntutan massa di lapangan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

