
Repelita Jakarta - Anies Baswedan angkat bicara terkait kasus teror yang menimpa Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Tiyo Ardianto.
Ia mendorong Tiyo untuk segera melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib agar pelaku dapat segera teridentifikasi.
Yang penting laporkan dan negara wajib mencari tahu siapa yang melakukan teror.
Anies menyatakan bahwa jika teror menimpa masyarakat yang menyampaikan kritik maka rasa aman seluruh warga akan hilang.
Sementara rasa aman kan dibutuhkan di negeri ini.
Menurutnya kebebasan berpendapat merupakan hak yang wajib dilindungi oleh negara sesuai perintah konstitusi.
Karena itu adalah perintah konstitusi jadi berikan ruang lindungi dan kalau ada teror negara berkewajiban melakukan investigasi.
Ia menekankan pentingnya investigasi negara untuk menciptakan rasa aman tidak hanya bagi mahasiswa yang terdampak melainkan seluruh masyarakat yang berani menyampaikan pendapat.
Pernyataan Anies disampaikan usai menghadiri Diskusi Intelektual Muslim di Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia pada Jumat dua puluh Februari dua ribu dua puluh enam.
Teror terhadap Tiyo bermula setelah BEM UGM mengirim surat terbuka kepada United Nations International Children’s Emergency Fund pada enam Februari dua ribu dua puluh enam.
Surat tersebut meminta penghentian program Makan Bergizi Gratis karena dianggap tidak sesuai kondisi lapangan dan dikaitkan dengan tragedi bunuh diri siswa SD di Nusa Tenggara Timur.
Tiyo mengaku menerima pesan ancaman dari enam nomor misterius berkode negara Inggris Raya plus empat empat termasuk kalimat Agen asing jangan cari panggung jual narasi sampah.
Ia juga mendapat serangan fitnah di berbagai platform media sosial seperti Facebook X Instagram serta TikTok berupa konten AI yang memfitnah dirinya.
Ibu Tiyo bahkan menerima pesan tuduhan bahwa anaknya menilep dana kampus.
Ancaman penculikan datang berulang antara sembilan hingga sebelas Februari dua ribu dua puluh enam.
Pada sebelas Februari dua ribu dua puluh enam Tiyo dibuntuti dua pria bertubuh tegap yang mengambil foto dari kejauhan di sebuah kedai.
Teror tersebut juga merembet ke keluarga serta puluhan anggota pengurus BEM UGM lainnya.
Tiyo menegaskan tidak akan menunjukkan rasa takut dan tetap teguh menghadapi intimidasi tersebut.
Cahaya itu telah menerangi gulita teror dan bahaya yang saya keluarga dan pengurus BEM UGM alami kita buat setiap teror itu gagal dengan tetap berdiri tegak dan kepala mendongak.
Ia menyatakan sudah berkomunikasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan serta pihak kampus untuk penanganan lebih lanjut.
Kasus ini terus menjadi perhatian luas karena menyangkut kebebasan berpendapat rasa aman masyarakat serta tanggung jawab negara dalam melindungi warganya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

