Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Herwin Sudikta: Penangkapan Maduro Bukti Hukum Internasional Jadi Dekorasi Belaka

Presiden Venezuela Nicolas Maduro (tengah) digiring dalam tahanan menyusuri lorong di kantor Badan Penegakan Narkoba AS (DEA) di New York City, AS, Sabtu (3/1/2026). Foto: @RapidResponse47/HO via REUTERS

Repelita Caracas – Aktivis media sosial Herwin Sudikta mengomentari operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro Moros oleh pasukan elite Delta Force militer Amerika Serikat.

Peristiwa itu menjadi ilustrasi nyata betapa rentannya kedaulatan sebuah negara ketika berhadapan dengan ambisi superpower global.

Venezuela hari ini jadi contoh telanjang, kata Herwin dalam wawancara pada Minggu (4/1/2026).

Herwin menyoroti bahwa kedaulatan suatu bangsa bisa direnggut secara unilateral bila bertentangan dengan agenda Washington.

Proses tersebut tidak lagi melalui jalur pengadilan internasional yang sah.

Kedaulatan negara bisa dicabut sepihak kalau tak sejalan dengan kepentingan Washington.

Bukan lewat pengadilan internasional, tapi lewat kapal perang dan borgol, tambahnya.

Herwin menjelaskan bahwa pandangannya tidak dipengaruhi oleh sikap pribadi terhadap Nicolás Maduro.

Fokus utama adalah dampak preseden yang ditimbulkan terhadap tatanan dunia.

Ini bukan soal suka atau benci Maduro, tegasnya.

Jika tindakan invasi serta penculikan kepala negara dijustifikasi sebagai hal biasa, maka eksistensi norma hukum internasional menjadi dipertanyakan secara mendasar.

Ini soal preseden berbahaya, jika invasi dan penculikan pemimpin negara dianggap wajar, maka hukum internasional resmi jadi dekorasi, urainya.

Herwin juga mengajukan pertanyaan kritis kepada dunia internasional, tak terkecuali Indonesia.

Pertanyaannya tinggal satu, siapa berikutnya?

Dan ketika itu terjadi, siapa yang masih berani bersuara?

Indonesia?

Operasi tersebut diawali dengan rentetan ledakan di ibu kota Caracas pada Sabtu (3/1/2026).

Serangan udara menargetkan pangkalan militer serta fasilitas pemerintahan.

Pihak Amerika Serikat mengakui bertanggung jawab atas aksi tersebut.

Pemerintah Venezuela menyatakan serangan itu dimaksudkan untuk menguasai aset strategis seperti cadangan minyak dan mineral.

Venezuela menegaskan komitmen memperjuangkan kedaulatan serta hak menentukan nasib sendiri.

Laporan menyebutkan setidaknya tujuh ledakan mengguncang Caracas disertai penerbangan rendah pesawat tempur AS sejak dini hari.

Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa pasukan AS berhasil menangkap Nicolás Maduro beserta istrinya Cilia Flores pada Sabtu (3/1/2026).

Penangkapan berlangsung paralel dengan operasi militer skala besar terhadap Venezuela.

Unit Delta Force Angkatan Darat AS memimpin penggerebekan tersebut.

Trump sebelumnya meningkatkan imbalan informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro menjadi 50 juta dolar AS sekitar Rp815 miliar pada Agustus 2025.

Maduro menjadi kepala negara berdaulat yang masuk daftar buronan pemerintah AS atas tuduhan perdagangan narkotika berskala besar.

Pada 2020 selama masa jabatan pertama Trump, Maduro serta sejumlah pejabat Venezuela didakwa di pengadilan federal New York terkait konspirasi narko-terorisme.

Editor: 91224 R-ID Elok.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved