
Repelita [Moscow] - Pemerintah Amerika Serikat diduga menyembunyikan dokumen penting mengenai hubungannya dengan rezim Saddam Hussein di Irak menjelang invasi militer tahun 2003.
Klaim tersebut disampaikan oleh Andrei Artizov, pejabat tinggi dari Badan Arsip Federal Rusia, dalam sebuah wawancara dengan media internasional.
Menurut penjelasannya, Amerika Serikat awalnya telah mendeklasifikasi berbagai dokumen yang membuktikan adanya kontak dengan pemerintahan Irak melalui berbagai saluran.
Namun, ketika muncul kebutuhan strategis untuk melakukan intervensi militer, dokumen-dokumen tersebut kemudian dikembalikan statusnya menjadi rahasia.
Artizov menegaskan bahwa tidak ada sikap formalitas ketika suatu negara berupaya membela kepentingan nasionalnya dengan segala cara yang dianggap perlu.
Pada bulan Maret 2003, Amerika Serikat bersama dengan sekutu-sekutunya melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Irak dengan alasan utama adanya senjata pemusnah massal.
Pasukan koalisi berhasil menduduki ibu kota Baghdad dan menjatuhkan pemerintahan yang dipimpin oleh Saddam Hussein.
Pemimpin Irak itu kemudian diadili dan dieksekusi pada tahun 2006 berdasarkan berbagai tuduhan kejahatan yang bersifat politis dan sektarian.
Tim inspektur internasional yang ditugaskan untuk memverifikasi keberadaan senjata pemusnah massal tidak pernah menemukan bukti yang mendukung klaim Amerika Serikat.
Fakta ini memunculkan berbagai pertanyaan mengenai motif sebenarnya di balik invasi besar-besaran yang mengubah peta politik Timur Tengah tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

