
Repelita Jakarta - Masyarakat di Aceh Tamiang yang menjadi korban banjir serta tanah longsor telah bertahan hampir satu bulan dalam kondisi penuh keterbatasan.
Sebagian besar penyintas masih bertempat di posko pengungsian karena rumah mereka rusak berat atau bahkan hilang terseret arus banjir.
Selain kelelahan secara fisik, para korban bencana di Sumatera juga mulai mengalami tekanan psikis yang berat.
Lingkungan yang hancur total serta kehidupan sosial dan ekonomi yang harus dibangun ulang dari nol menjadi pemicu utama.
Curhatan mengenai kelelahan mental ini disampaikan oleh seorang warga dari Alur Jambu, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang.
“Aku kalau ramai-ramai begini senang, tapi kalau sendiri, habis salat, renungkan, mau stres rasanya,” ungkap warga tersebut seperti dikutip dari unggahan akun Instagram @bayugawtama pada Kamis, 25 Desember 2025.
“Kalau ada suami, ada tempat untuk buang pikiran,” tambahnya.
Unggahan itu langsung menuai empati dari berbagai warganet yang memberikan dukungan moral.
“Ibu, peluk jauh. Semoga Allah kuatkan kalian,” tulis akun @yat*
“Sedikit yang dikatakan si ibu, tapi sakitnya sampai kemari. Kuat-kuat ya ibu, badai pasti berlalu,” tulis akun @kurn
Berbagai upaya pendampingan terus diberikan kepada para penyintas banjir dan longsor, khususnya untuk menjaga kestabilan kondisi mental mereka.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, pernah menyatakan bahwa kementeriannya akan memprioritaskan program pemulihan trauma.
Kegiatan trauma healing tersebut dilaksanakan di posko-posko pengungsian di daerah terdampak dan ditargetkan untuk anak-anak, perempuan, serta keluarga secara keseluruhan.
Tidak hanya dari pemerintah, kelompok relawan mandiri dari masyarakat juga mengerahkan tenaga untuk membantu percepatan pemulihan mental para korban bencana.
Editor: 91224 R-ID Elok

