
Repelita Jakarta - Istana menanggapi teror yang dialami Ketua BEM Universitas Gadjah Mada Tiyo Ardianto setelah mengkritik program Makan Bergizi Gratis dengan menyatakan bahwa kritik seharusnya menggunakan etika.
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras karena dianggap menyalahkan korban intimidasi alih-alih mengecam pelaku teror.
Kritik terhadap Istana sering dikaitkan dengan pelanggaran etik berat dalam pencalonan Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden pada Pemilu 2024.
Pencalonan Gibran lolos berkat Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 90/PUU-XXI/2023 yang ditangani Anwar Usman selaku Ketua MK saat itu.
Anwar Usman kemudian dicopot dari jabatan Ketua MK oleh Majelis Kehormatan MK karena dinyatakan melakukan pelanggaran etik berat dalam penanganan perkara usia capres-cawapres.
Koordinator Komite Pemilih Indonesia Jeirry Sumampow menyatakan bahwa pencalonan Gibran cacat moral karena proses pengadilan yang tidak bermoral dan beretika.
Jeirry menegaskan bahwa meskipun putusan MKMK tidak membatalkan putusan MK namun menunjukkan adanya persekongkolan jahat di antara hakim MK.
Ia menilai pencalonan Gibran seharusnya batal secara etik moral karena cacat dari akar prosesnya.
Ucapan Prabowo Subianto saat pidato di acara Gerindra usai debat capres menjadi viral ketika menjawab pertanyaan Anies Baswedan tentang pelanggaran etik MK.
Prabowo mengejek dengan kalimat “Soal etik etik etik… ndasmu etik!” yang kemudian memicu kontroversi luas di masyarakat.
Pernyataan tersebut dianggap mencerminkan sikap yang tidak menghormati isu etika dalam proses demokrasi nasional.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

