Breaking Posts

10/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Pengamat Ekonomi: Perbandingan MBG dengan McDonald’s di Forum Ekonomi Dunia Menggelikan dan Abaikan Prinsip Fiskal

Repelita Jakarta - Seorang pengamat ekonomi mengkritik keras perbandingan program Makan Bergizi Gratis MBG dengan ekspansi McDonald’s yang disampaikan dalam pidato di forum internasional.

Perbandingan tersebut dinilai sangat keliru karena McDonald’s beroperasi di sektor swasta dengan modal sendiri pinjaman bank serta investasi investor yang semuanya mengandung risiko bisnis tinggi.

Setiap gerai baru yang dibuka menghadapi kemungkinan gagal dan perusahaan harus menanggung kerugian finansial secara penuh jika permintaan pasar tidak tercapai.

Berbeda jauh dengan MBG yang merupakan program pemerintah dibiayai langsung dari APBN menggunakan uang pajak rakyat sehingga tidak bergantung pada mekanisme pasar atau daya saing.

Pertumbuhan MBG ditentukan oleh keputusan politik serta kemampuan anggaran negara bukan oleh permintaan konsumen atau persaingan bisnis.

Program pemerintah seperti ini memiliki monopoli negara sehingga dapat mengalokasikan dana besar dalam waktu singkat tanpa menghadapi tekanan kompetisi seperti yang dialami perusahaan swasta.

Akuntabilitas dan kelangsungan program juga berbeda karena kegagalan pasar dapat menghukum perusahaan swasta hingga bangkrut sementara program negara sering tetap berlanjut meskipun mengalami inefisiensi akibat pertimbangan politis.

Mekanisme pertumbuhan McDonald’s memerlukan pembangunan infrastruktur rantai pasok serta penguatan merek secara bertahap di berbagai negara dengan regulasi yang beragam selama puluhan tahun.

Sementara MBG dapat berkembang pesat karena negara memiliki otoritas untuk memindahkan anggaran ratusan triliun rupiah hanya melalui keputusan administratif tanpa gesekan pasar.

Parameter keberhasilan pun tidak sama di mana McDonald’s diukur dari efisiensi biaya serta margin laba per porsi sedangkan MBG lebih menekankan pada luasnya cakupan distribusi kepada penerima manfaat.

Aspek opportunity cost menjadi sangat krusial karena setiap rupiah yang dialokasikan masif untuk MBG berarti mengurangi dana potensial untuk perbaikan sarana pendidikan atau peningkatan kesejahteraan tenaga pengajar.

Pidato yang membanggakan kecepatan MBG melebihi McDonald’s dianggap tidak tepat di hadapan audiens World Economic Forum yang terdiri dari para ekonom kelas dunia yang menghargai prinsip teknokrasi serta stabilitas fiskal.

Retorika semacam itu dipandang mirip dengan gaya manajemen startup yang membakar dana investor hanya saja dalam kasus ini dana yang digunakan berasal dari pajak masyarakat.

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.id | All Right Reserved